
Trending

Global & Ekonomi
Sumber: Newsmaker.id
Jumlah warga AS yang mengajukan klaim tunjangan pengangguran kembali menurun pada pekan lalu dan mencapai level terendah sejak Juli. Data terbaru menunjukkan initial jobless claims turun 10.000 menjadi 196.000 pada pekan yang berakhir 12 September, lebih rendah dibandingkan perkiraan pasar sebesar 207.000. Penurunan tersebut memberikan sinyal bahwa kondisi pasar tenaga kerja AS masih relatif stabil.
Penurunan klaim pengangguran terjadi pada periode yang bertepatan dengan libur Labor Day, sehingga data dapat mengalami perubahan akibat faktor musiman. Meski demikian, angka klaim yang tetap berada di bawah ekspektasi menunjukkan perusahaan masih mempertahankan tenaga kerja dan belum terjadi peningkatan besar dalam pemutusan hubungan kerja.
Selain klaim awal, jumlah penerima tunjangan pengangguran berkelanjutan atau continuing claims juga mengalami penurunan. Angka tersebut turun menjadi sekitar 1,73 juta pada pekan sebelumnya, mencapai level terendah sejak 2024. Data ini memperkuat gambaran bahwa pekerja yang kehilangan pekerjaan relatif cepat kembali mendapatkan pekerjaan baru.
Rilis data tenaga kerja ini menjadi perhatian pasar setelah Federal Reserve sebelumnya menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin dan memberikan sinyal bahwa kebijakan moneter ketat masih dapat berlanjut. Kondisi pasar tenaga kerja yang masih solid memberikan ruang bagi The Fed untuk tetap fokus mengendalikan inflasi tanpa tekanan besar dari sisi pelemahan ekonomi.
Dari sisi pasar keuangan, data tenaga kerja yang lebih kuat dari perkiraan dapat memberikan dukungan terhadap dolar AS karena memperkuat ekspektasi bahwa The Fed masih memiliki alasan untuk mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama. Namun, investor tetap akan mencermati data ekonomi berikutnya, terutama inflasi dan indikator tenaga kerja lainnya, untuk melihat arah kebijakan bank sentral AS.
Analisis Newsmaker: Penurunan klaim pengangguran menunjukkan ekonomi AS masih memiliki fondasi yang cukup kuat meskipun The Fed telah memperketat kebijakan moneter. Bagi pasar, kondisi tenaga kerja yang stabil dapat menjadi faktor pendukung dolar dan membatasi ekspektasi pemangkasan suku bunga agresif. Namun, apabila inflasi mulai melambat dan pertumbuhan ekonomi kehilangan momentum, perhatian pasar dapat kembali bergeser pada peluang perubahan arah kebijakan The Fed. (arl)
Sumber : Newsmaker.id