
Trending

Global & Ekonomi
Sumber: Newsmaker.id
Konsumen Amerika Serikat mempertahankan ekspektasi inflasi mereka pada Agustus, tetapi kekhawatiran terhadap kondisi pasar tenaga kerja meningkat tajam. Kondisi tersebut menambah tanda bahwa rumah tangga AS mulai melihat risiko perlambatan ekonomi yang lebih besar meskipun tekanan harga belum sepenuhnya mereda.
Survei Ekspektasi Konsumen Federal Reserve Bank of New York menunjukkan ekspektasi inflasi satu tahun ke depan bertahan di 3,6%, sedangkan ekspektasi lima tahun tetap sebesar 3,0%. Sementara itu, proyeksi inflasi tiga tahun turun tipis menjadi 3,2% dari 3,3% pada bulan sebelumnya.
Di sisi lain, kekhawatiran mengenai kondisi ketenagakerjaan semakin meningkat. Probabilitas rata-rata konsumen yang memperkirakan tingkat pengangguran AS akan lebih tinggi dalam satu tahun ke depan naik menjadi 44,4%, level tertinggi sejak April 2020. Peluang mendapatkan pekerjaan baru apabila kehilangan pekerjaan saat ini juga turun menjadi 45,4%.
Tekanan terhadap rumah tangga turut terlihat dari memburuknya persepsi mengenai akses terhadap kredit dan kondisi keuangan. Probabilitas konsumen gagal memenuhi pembayaran minimum utang dalam tiga bulan ke depan naik menjadi 13,2%, sedikit di atas rata-rata 12 bulan terakhir sebesar 12,7%.
Pada saat yang sama, ekspektasi kenaikan harga bensin satu tahun ke depan melonjak 1,7 poin persentase menjadi 4,6%, sementara ekspektasi kenaikan harga makanan meningkat menjadi 5,3%. Kondisi tersebut menunjukkan risiko inflasi masih bertahan meskipun kekhawatiran terhadap pelemahan pasar tenaga kerja mulai meningkat.
Situasi tersebut dapat menempatkan Federal Reserve dalam posisi yang semakin rumit menjelang keputusan suku bunga berikutnya. Pelemahan pasar tenaga kerja pada dasarnya dapat mendukung kebijakan yang lebih dovish, tetapi ekspektasi inflasi yang masih tinggi membatasi ruang The Fed untuk melonggarkan kebijakan. Bagi pasar, kombinasi inflasi tinggi dan kekhawatiran pekerjaan yang meningkat membuat data PPI dan CPI pekan ini semakin penting dalam menentukan arah dolar AS, Treasury yield, dan harga emas.
Dampak ke Market :
Buat Gold, Laporan ini cenderung sedikit positif, karena meningkatnya kekhawatiran pengangguran dapat membuat pasar mempertanyakan seberapa lama The Fed mampu mempertahankan kebijakan hawkish.
Tapi sinyal bullish-nya belum kuat karena ekspektasi inflasi satu tahun masih 3,6% dan ekspektasi harga bensin justru meningkat. Jadi kalau PPI dan CPI tetap panas, kekhawatiran tenaga kerja kemungkinan kalah pengaruh dibanding risiko inflasi.
Justru yang menarik sekarang adalah dilema The Fed: inflasi belum benar-benar jinak, tapi konsumen mulai takut kehilangan pekerjaan. Kalau tren tenaga kerja terus memburuk bersamaan dengan inflasi yang mendingin, itu baru bisa menjadi kombinasi yang jauh lebih bullish untuk emas.(CP)