
Trending

Fiskal & Moneter
Sumber: Newsmaker.id
Federal Reserve diperkirakan menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin pada pertemuan Rabu (16/9), membawa kisaran suku bunga acuan menjadi 3,75%–4,00%. Pasar memperkirakan peluang kenaikan tersebut sangat tinggi setelah data inflasi AS kembali menunjukkan tekanan harga yang kuat dan minyak bertahan di atas US$100 per barel.
Ketua The Fed Kevin Warsh kini menghadapi situasi sulit. Sejak memimpin bank sentral pada Mei, Warsh dikenal enggan memberikan panduan jelas mengenai arah suku bunga. Namun, inflasi inti Agustus naik 0,3% secara bulanan, sementara lonjakan minyak akibat konflik Timur Tengah meningkatkan risiko inflasi tetap tinggi.
Tekanan politik juga ikut membayangi keputusan The Fed. Presiden Donald Trump menunjuk Warsh dengan harapan suku bunga dapat diturunkan, tetapi kondisi ekonomi justru mendorong pasar ke arah sebaliknya. Kenaikan bunga menjelang pemilu sela November berpotensi menjadi keputusan yang sensitif secara politik.
Di internal The Fed, sejumlah pejabat sebelumnya masih ingin menunggu perkembangan inflasi. Namun, data terbaru membuat semakin banyak pembuat kebijakan berpotensi mendukung kenaikan bunga. Beberapa pejabat bahkan sebelumnya telah menyatakan bahwa proses penurunan inflasi berlangsung terlalu lambat.
Analisa Newsmaker: kombinasi inflasi yang masih tinggi, minyak di atas US$100, dan ekspektasi pasar yang sudah kuat membuat ruang The Fed untuk menahan bunga semakin sempit. Jika Warsh memilih menaikkan suku bunga sekaligus memberi sinyal pengetatan lanjutan, dolar dan yield berpotensi tetap kuat, sementara emas dan aset berisiko dapat kembali mendapat tekanan. (arl)
Sumber : Newsmaker.id