
Trending

Global & Ekonomi
Sumber: Newsmaker.id
Lalu lintas kapal komoditas melalui Selat Hormuz masih berada di bawah rata-rata pada akhir pekan, menurut data awal pelacakan kapal yang dirilis Senin (14/9). Transit kapal turun ke level satu digit per hari, jauh di bawah rata-rata 10 hari sebanyak 14 kapal.
Selama akhir pekan, hanya empat kapal keluar dari kawasan Teluk melalui Selat Hormuz. Kapal tersebut terdiri dari satu Handysize tanpa muatan, satu Handy pembawa LPG, satu Supramax pembawa pupuk, serta satu Suezmax bermuatan minyak mentah atau kondensat.
Sementara itu, terdapat 10 kapal yang masuk ke kawasan Teluk, termasuk mini-bulker pembawa komoditas minor, Handymax pembawa gandum, Panamax pembawa logam, dan Supramax pembawa dry bulk cargo. Angka tersebut belum mencakup kapal yang kemungkinan melintas dengan mematikan transponder AIS untuk menghindari deteksi.
Ketegangan di jalur pelayaran meningkat setelah sebuah kapal dilaporkan terkena proyektil tak dikenal saat melintasi Selat Hormuz pada Minggu pagi. United Kingdom Maritime Trade Operations menyatakan status kru, tingkat kerusakan, dan dampak lingkungan dari insiden tersebut masih belum diketahui.
Risiko pasokan juga bertambah setelah pipa minyak East-West Arab Saudi sempat ditutup sementara akibat serangan drone dari Irak. Pipa ini menjadi jalur penting bagi Saudi untuk mengurangi kemacetan ekspor minyak dari Selat Hormuz, terutama sejak perang Iran dimulai pada 28 Februari.
Sebelum perang Iran, Selat Hormuz biasanya dilalui sekitar 125 kapal komersial besar per hari, termasuk tanker, kapal gas, bulk carrier, dan kapal kontainer. Jalur ini mencakup sekitar 20% pasokan harian minyak mentah dan gas alam cair dunia, sehingga gangguan lalu lintas di kawasan tersebut tetap menjadi perhatian utama pasar energi global.
Di jalur lain, Selat Bab el-Mandeb masih relatif lebih stabil. Sebanyak 24 kapal komoditas melintas pada Sabtu dan 27 kapal pada Minggu, mendekati rata-rata 10 hari sekitar 27 kapal. Namun, risiko tetap ada karena kawasan tersebut juga menjadi titik penting bagi rute pelayaran energi Timur Tengah.
Analisis Newsmaker: Rendahnya trafik kapal di Selat Hormuz menunjukkan risiko pasokan minyak belum benar-benar mereda, meskipun sebagian arus pelayaran masih berjalan. Jika gangguan di Hormuz berlanjut dan pipa alternatif Saudi kembali terdampak, harga minyak berpotensi mempertahankan premi risiko geopolitik. Kondisi ini dapat menjaga Brent dan WTI tetap sensitif terhadap kabar serangan baru, sekaligus memperbesar kekhawatiran inflasi energi global. (asd)