
Trending

Fiskal & Moneter
Sumber: Newsmaker.id
Federal Reserve menghadapi pilihan sulit menjelang pertemuan kebijakan 15–16 September 2026. Tekanan inflasi yang kembali meningkat membuat kenaikan suku bunga semakin diperlukan, tetapi kebijakan tersebut berpotensi memperlambat konsumsi, investasi, dan pertumbuhan ekonomi Amerika Serikat.
Ekspektasi kenaikan bunga menguat setelah indeks harga konsumen AS naik 0,4% pada Agustus, sementara inflasi inti meningkat 0,3%. Tekanan harga di tingkat produsen juga masih kuat, dengan PPI Agustus naik 0,4% secara bulanan dan 5,4% secara tahunan. Kondisi ini memperkuat pandangan bahwa perjuangan The Fed membawa inflasi kembali menuju target 2% belum selesai.
Survei Reuters terhadap 101 ekonom menunjukkan sekitar 85% responden memperkirakan The Fed menaikkan suku bunga 25 basis poin menjadi kisaran 3,75%–4,00% pada pertemuan pekan ini. Bahkan, 53% ekonom memperkirakan setidaknya masih ada satu kenaikan tambahan hingga Maret 2027.
Namun, kenaikan suku bunga membawa konsekuensi bagi perekonomian. Biaya kredit rumah, kendaraan, kartu kredit, serta pembiayaan perusahaan akan meningkat. Kondisi tersebut dapat mengurangi konsumsi masyarakat dan membuat perusahaan menunda investasi maupun ekspansi, sehingga aktivitas ekonomi berisiko kehilangan momentum.
Tanda perlambatan sudah mulai terlihat di beberapa sektor. Penjualan ritel AS pada Juli tercatat turun untuk pertama kalinya dalam sembilan bulan, sementara Beige Book terbaru The Fed menggambarkan aktivitas ekonomi hanya meningkat secara moderat dan pertumbuhan tenaga kerja relatif terbatas.
Situasi menjadi semakin rumit karena sebagian tekanan inflasi berasal dari lonjakan harga energi. Kenaikan harga minyak dapat meningkatkan biaya transportasi dan produksi, tetapi suku bunga yang lebih tinggi tidak dapat secara langsung menambah pasokan energi. Jika inflasi tetap tinggi sementara pertumbuhan melemah, kekhawatiran terhadap risiko stagflasi dapat meningkat.
Karena itu, perhatian pasar bukan hanya tertuju pada apakah The Fed akan menaikkan suku bunga, tetapi juga seberapa agresif kebijakan berikutnya. Kenaikan 25 basis poin dapat membantu menjaga kredibilitas The Fed dalam melawan inflasi, tetapi pengetatan yang terlalu jauh berisiko membuat “obat” inflasi justru ikut menekan kesehatan ekonomi AS.(CP)