
Trending

Global & Ekonomi
Sumber: Newsmaker.id
Amerika Serikat melancarkan gelombang serangan baru terhadap target Iran di sekitar Selat Hormuz. Aksi tersebut memperpanjang rangkaian serangan balasan kedua negara setelah masa relatif tenang selama beberapa pekan.
Komando Pusat AS menyatakan serangan diarahkan ke target Garda Revolusi Iran sebagai respons terhadap serangan Teheran terhadap kapal komersial dan pasukan Amerika di kawasan. Ledakan dilaporkan terdengar di Bandar Abbas dan Chabahar, wilayah selatan Iran.
Harga minyak kembali melonjak setelah kabar tersebut, dengan WTI mendekati US$90 per barel. Sebelum konflik kembali memanas, pengiriman minyak melalui Hormuz sempat pulih menjadi sekitar separuh tingkat sebelum perang melalui pelayaran rahasia dari sejumlah produsen Timur Tengah.
Eskalasi terbaru terjadi setelah dua kapal supertanker yang berusaha keluar dari Hormuz dilaporkan terkena proyektil. Sehari sebelumnya, AS menyerang peluncur roket Iran yang disebut bersiap menyebarkan ranjau, sedangkan Iran membalas dengan menargetkan Uni Emirat Arab dan Yordania.
Analisa Newsmaker: konflik berkepanjangan dapat kembali menghambat pelayaran Hormuz, mendorong minyak lebih tinggi, dan memperkuat tekanan inflasi global. Kondisi tersebut berpotensi meningkatkan ekspektasi kenaikan suku bunga, menopang dolar, dan menekan pasar saham. Emas dapat tertekan oleh kenaikan yield, tetapi tetap mendapat dukungan dari permintaan aset aman.(arl)
Sumber: Newsmaker.id