
Trending

Fiskal & Moneter
Sumber: Newsmaker.id
Bank of England (BoE) mempertahankan suku bunga acuannya di level 3,75% pada pertemuan September, namun memperingatkan bahwa kenaikan suku bunga masih dapat dilakukan apabila tekanan inflasi kembali meningkat akibat konflik di Timur Tengah. Keputusan tersebut menunjukkan bank sentral Inggris masih berhati-hati terhadap risiko kenaikan harga energi dan dampaknya terhadap perekonomian.
Komite Kebijakan Moneter (MPC) BoE memilih mempertahankan suku bunga dengan keputusan enam anggota mendukung penahanan suku bunga, termasuk Gubernur Andrew Bailey. Sementara itu, tiga anggota lainnya memilih menaikkan suku bunga karena menilai tekanan inflasi masih memiliki risiko meningkat dalam beberapa bulan ke depan.
Bailey mengatakan dampak kenaikan harga energi global sejauh ini masih terbatas terhadap harga dan upah di Inggris. Namun, ia memperingatkan bahwa jika volatilitas energi berlangsung lebih lama, tekanan terhadap inflasi akan semakin besar dan dapat meningkatkan kemungkinan BoE kembali menaikkan suku bunga.
Konflik antara Amerika Serikat dan Iran menjadi salah satu perhatian utama BoE karena telah mendorong kenaikan harga minyak dan gas. Kondisi tersebut berpotensi meningkatkan biaya energi rumah tangga Inggris ketika penyesuaian batas harga energi dilakukan pada awal tahun depan. BoE juga menyatakan risiko inflasi saat ini lebih condong ke arah kenaikan dibandingkan sebelumnya.
Dalam proyeksi terbaru, BoE memperkirakan inflasi Inggris dapat mencapai sekitar dua kali lipat dari target 2% pada awal tahun depan. Meski menghadapi tekanan harga, bank sentral Inggris menaikkan perkiraan pertumbuhan ekonomi kuartal ketiga menjadi 0,4%. Pada saat yang sama, BoE juga menghentikan rencana penjualan obligasi pemerintah jangka panjang dan akan melakukan pengurangan portofolio utangnya secara bertahap hingga 2034.
Analisis Newsmaker: Keputusan BoE menunjukkan posisi sulit yang dihadapi bank sentral global saat ini, yaitu menjaga inflasi tetap terkendali tanpa memberikan tekanan berlebihan terhadap pertumbuhan ekonomi. Konflik geopolitik dan kenaikan harga energi menjadi faktor utama yang dapat mengubah arah kebijakan moneter Inggris. Dalam jangka pendek, pasar akan mencermati data inflasi dan perkembangan harga energi untuk melihat apakah BoE akan benar-benar melanjutkan kenaikan suku bunga atau tetap mempertahankan pendekatan hati-hati. (arl)
Sumber : Newsmaker.id