
Trending

Fiskal & Moneter
Sumber: Newsmaker.id
Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan masih mempercayai Ketua Federal Reserve Kevin Warsh meskipun bank sentral menaikkan suku bunga. Trump justru menyalahkan jajaran Dewan The Fed yang disebutnya “tidak bersahabat” setelah seluruh anggota FOMC menyetujui kenaikan bunga sebesar 25 basis poin menjadi 3,75%–4,00%.
Trump mengaku telah berbicara dengan Warsh, tetapi tidak berusaha memengaruhi keputusannya. Menurut Trump, Warsh tidak memiliki cukup suara untuk menolak keputusan tersebut karena seluruh 12 anggota FOMC mendukung kenaikan bunga. Pernyataan ini menunjukkan Trump masih memberi ruang kepada Warsh meskipun tekanan terhadap bank sentral terus meningkat.
Sebelumnya, Trump mendesak The Fed segera menurunkan suku bunga menjadi 1% atau bahkan lebih rendah. Ia menilai tingginya biaya pinjaman merugikan daya saing Amerika Serikat dan memperlebar defisit perdagangan. Namun, penurunan bunga sebesar itu biasanya hanya dilakukan ketika perekonomian menghadapi krisis serius.
Kenaikan bunga pertama sejak 2023 tersebut dilakukan setelah inflasi konsumen AS pada Agustus meningkat lebih tinggi dari perkiraan. The Fed juga menghadapi tekanan harga dari lonjakan biaya energi akibat konflik AS–Iran serta kebijakan tarif Trump. Warsh menegaskan risiko geopolitik telah mengubah prospek inflasi, meskipun ekonomi AS masih didukung pertumbuhan produktivitas, investasi, dan pasar tenaga kerja yang solid.
Bagi pasar, kebijakan The Fed yang hawkish berpotensi memperkuat dolar AS sekaligus menekan harga emas karena meningkatnya imbal hasil aset berbunga. Minyak juga dapat tertekan oleh kekhawatiran bahwa suku bunga tinggi akan memperlambat ekonomi dan permintaan energi, tetapi risiko gangguan pasokan akibat konflik AS–Iran masih dapat membatasi penurunannya.