Ini Penyebab Melemahnya Bursa Asia!
Bursa saham Asia melemah pada perdagangan Selasa (23/6), mengikuti tekanan yang terjadi di Wall Street setelah saham-saham teknologi besar mengalami koreksi. Indeks saham regional MSCI Asia Pacific sempat turun hingga 0,7% pada awal perdagangan, sementara kontrak berjangka S&P 500 juga ikut melemah. Sentimen pasar tertekan setelah saham teknologi berkapitalisasi besar di Amerika Serikat turun, bersamaan dengan kenaikan imbal hasil obligasi yang membuat investor kembali berhati-hati terhadap aset berisiko.
Tekanan terbesar datang dari sektor teknologi, terutama setelah saham SpaceX kembali melemah untuk hari ketiga berturut-turut dan menghapus nilai pasar dalam jumlah besar. Perusahaan milik Elon Musk tersebut anjlok setelah mengumumkan rencana penjualan obligasi investment grade dalam jumlah besar. Langkah ini dinilai sebagai bagian dari kebutuhan pendanaan besar untuk mendukung ekspansi kecerdasan buatan atau AI, tetapi pada saat yang sama menimbulkan kekhawatiran baru mengenai besarnya belanja modal perusahaan teknologi.
Kekhawatiran terhadap belanja AI juga meluas ke sejumlah perusahaan besar lain. Alphabet, Amazon, dan beberapa raksasa teknologi sebelumnya telah menghimpun dana besar melalui pasar utang untuk mendukung proyek AI. Investor mulai mempertanyakan apakah investasi raksasa tersebut dapat menghasilkan keuntungan yang sepadan dalam waktu dekat. Karena itu, laporan keuangan Micron Technology pekan ini akan menjadi perhatian penting untuk melihat apakah tren AI masih cukup kuat menopang reli saham teknologi.
Di sisi lain, sentimen geopolitik masih menjadi faktor yang diperhatikan pasar. Harga minyak Brent bertahan di sekitar US$78 per barel setelah turun tajam pada sesi sebelumnya. Penurunan ini terjadi setelah Amerika Serikat menerbitkan lisensi sementara selama 60 hari yang memungkinkan Iran menjual sebagian minyaknya ke pasar internasional. Kebijakan tersebut memberi harapan bahwa pasokan energi dari Teluk Persia dapat kembali pulih, meskipun pembicaraan damai antara AS dan Iran masih menghadapi sejumlah perbedaan mendasar.
Meski ada harapan dari proses damai AS-Iran, pasar tetap belum sepenuhnya tenang. Investor masih menunggu data Personal Consumption Expenditures atau PCE Amerika Serikat pekan ini, yang menjadi indikator inflasi favorit Federal Reserve. Setelah pernyataan The Fed yang masih bernada hawkish, pelaku pasar ingin melihat apakah ekspektasi kenaikan suku bunga masih layak dipertahankan. Jika data inflasi kembali panas, tekanan terhadap saham teknologi dan aset berisiko dapat berlanjut. Namun, jika inflasi mereda, pasar berpeluang mendapatkan dorongan baru untuk kembali pulih. (asd)
Sumber: Newsmaker.id