Wall Street Ditutup Beragam, Kekhawatiran AI Tekan Saham Teknologi
Bursa saham Amerika Serikat ditutup beragam pada perdagangan Senin(22/6), setelah tekanan pada saham-saham teknologi berbasis kecerdasan buatan atau AI menahan optimisme pasar terhadap kemajuan pembicaraan damai antara Amerika Serikat dan Iran. S&P 500 melemah 0,4%, Nasdaq 100 turun 0,2%, sementara Dow Jones Industrial Average masih mampu menguat 148 poin.
Tekanan terbesar datang dari kelompok saham teknologi besar yang selama ini menjadi motor reli Wall Street. Alphabet turun tajam, disusul pelemahan pada Palantir, Amazon, dan Meta. Investor mulai mempertanyakan besarnya belanja modal atau capital expenditure perusahaan-perusahaan AI hyperscaler, terutama setelah reli panjang sektor teknologi membuat valuasi saham berada di level tinggi.
SpaceX juga menjadi sorotan setelah sahamnya anjlok tajam usai mengumumkan rencana penjualan obligasi baru. Meski saham perusahaan milik Elon Musk tersebut masih berada jauh di atas level IPO, aksi jual menunjukkan bahwa investor mulai lebih hati-hati terhadap perusahaan teknologi yang membutuhkan pendanaan besar untuk mendukung ekspansi AI. Kekhawatiran pasar tertuju pada apakah investasi besar tersebut dapat menghasilkan imbal hasil yang sepadan dalam jangka panjang.
Di sisi lain, Dow Jones masih mampu bertahan di zona hijau setelah Iran menyatakan pembicaraan dengan Amerika Serikat mencatat kemajuan signifikan. Kedua pihak disebut sepakat menargetkan kesepakatan damai dalam dua bulan ke depan. Sentimen ini membuat harga energi kembali melemah karena pasar berharap pasokan minyak dari Timur Tengah dapat pulih lebih cepat.
Harga minyak yang turun sebenarnya menjadi sentimen positif bagi inflasi dan ekonomi global. Namun, dukungan tersebut belum cukup untuk mengangkat seluruh pasar saham karena investor masih mencermati arah kebijakan Federal Reserve. Setelah pertemuan The Fed pekan lalu yang bernada hawkish, ekspektasi suku bunga tinggi tetap membatasi minat investor terhadap aset berisiko.
Dengan kondisi tersebut, Wall Street masih berada dalam fase selektif. Saham-saham yang dinilai terlalu mahal setelah reli AI mulai mendapat tekanan, sementara sektor yang lebih defensif dan sensitif terhadap penurunan harga energi masih mampu menopang Dow Jones. Ke depan, investor akan mencermati perkembangan pembicaraan AS-Iran, harga minyak, laporan keuangan emiten teknologi, serta data inflasi AS sebagai penentu arah pasar berikutnya.(yds)
Sumber: Newsmaker.id