Wall Street Melemah, Imbal Hasil Obligasi Melonjak Bayangi Reli Pasar
Bursa saham Amerika Serikat ditutup melemah pada perdagangan Selasa (20/5), dengan indeks S&P 500 mencatat penurunan untuk sesi ketiga berturut-turut. Tekanan muncul seiring lonjakan imbal hasil obligasi pemerintah AS yang dinilai berpotensi mengganggu tren bullish yang telah berlangsung di pasar ekuitas. Pelaku pasar juga mencermati dinamika harga minyak setelah Presiden Donald Trump membatalkan rencana serangan terhadap Iran, yang sempat memicu ketidakpastian geopolitik.
Indeks S&P 500 turun 0,67% ke level 7.353,61, sementara Nasdaq Composite melemah 0,84% ke 25.870,71. Dow Jones Industrial Average juga terkoreksi 322,24 poin atau 0,65% menjadi 49.363,88. Penurunan ini menandai meningkatnya kehati-hatian investor di tengah tekanan dari pasar obligasi.
Volatilitas di pasar surat utang menjadi sorotan utama. Imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 30 tahun sempat menembus 5,19%, level tertinggi dalam hampir 19 tahun. Sementara itu, yield obligasi tenor 10 tahun—yang menjadi acuan utama suku bunga kredit perumahan, otomotif, dan kartu kredit—naik hingga 4,687%, tertinggi sejak Januari 2025. Kenaikan yield tersebut meningkatkan kekhawatiran bahwa biaya pinjaman yang lebih tinggi dapat menekan konsumsi dan kinerja perusahaan, sehingga membebani sentimen pasar saham.(yds)
Sumber: Newsmaker.id