Emas Tertekan, Dolar Menguat di Tengah Lonjakan Yield dan Kebuntuan Diplomasi
Harga emas melemah tajam pada perdagangan Selasa seiring penguatan dolar AS di tengah aksi jual global di pasar obligasi yang dipicu kekhawatiran inflasi. Minimnya kemajuan dalam upaya diplomasi antara Washington dan Teheran turut membebani sentimen pasar.
Pada pukul 16:47 waktu New York, harga emas spot turun 1,8% ke level US$4.483,39 per ons, sementara kontrak berjangka emas terkoreksi 1,6% menjadi US$4.487,22 per ons.
Perkembangan di Timur Tengah kembali menjadi sorotan. Meski Presiden Donald Trump menunda rencana serangan terhadap Iran setelah permintaan tiga pemimpin Teluk, belum terlihat terobosan nyata menuju kesepakatan damai. Trump menyatakan negosiasi “serius” tengah berlangsung dan menegaskan kesepakatan harus mencakup larangan senjata nuklir bagi Iran. Namun, ia juga memperingatkan bahwa militer AS tetap siaga untuk melancarkan serangan skala penuh jika perundingan gagal.
Trump mengungkapkan bahwa ia sebelumnya sudah hampir memerintahkan serangan terhadap Iran dan hanya memberikan waktu tambahan “dua atau tiga hari” bagi Teheran untuk kembali ke meja perundingan. Sementara itu, media pemerintah Iran melaporkan bahwa Teheran telah mengirimkan proposal perdamaian yang mencakup penghentian konflik di semua front serta tuntutan kompensasi atas kerusakan perang. Namun, laporan menyebutkan proposal terbaru tersebut tidak berbeda signifikan dari tawaran sebelumnya yang sempat ditolak Washington.
Tekanan tambahan bagi emas datang dari kembalinya aksi jual di pasar obligasi global. Lonjakan harga energi akibat konflik di kawasan Teluk memicu kekhawatiran inflasi yang lebih tinggi, mendorong ekspektasi kenaikan suku bunga oleh bank sentral. Imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun naik ke 4,670%, tertinggi sejak Januari 2025, sementara yield tenor 30 tahun menyentuh 5,181%, level yang belum terlihat sejak 2007.
Kenaikan suku bunga dan penguatan dolar biasanya mengurangi daya tarik emas, yang tidak memberikan imbal hasil. Dengan kombinasi tekanan inflasi, lonjakan yield, dan ketidakpastian geopolitik, pergerakan emas diperkirakan tetap volatil dalam waktu dekat.(yds)
Sumber: Newsmaker.id