Emas Tertahan Saat Risiko Inflasi
Harga emas masih menahan pelemahan di tengah minimnya kemajuan untuk membuka kembali Selat Hormuz, yang menjaga kekhawatiran inflasi tetap tinggi dan membuat pasar kembali memasang probabilitas suku bunga global bertahan ketat. Bullion dijual sekitar $4.480/oz, setelah turun hampir 2% pada Selasa (20/5).
Secara fundamental, ketegangan geopolitik kali ini menciptakan tarik-menarik yang tidak biasa bagi emas: risiko konflik biasanya mendukung aset lindung nilai, tetapi saluran inflasi dari harga energi mendorong ekspektasi suku bunga lebih tinggi dan mengangkat hasil, yang cenderung membebani emas karena tidak memberikan imbal hasil bunga. Karena itu emas bergerak relatif sempit di belakang ini, meski disebut sudah turun 15% sejak perang pecah.
Ke depan, arah emas akan sangat ditentukan oleh apakah pasar tetap menilai inflasi sebagai risiko dominan atau mulai kembali menimbang pelonggaran moneter karena kekhawatiran pertumbuhan. Jika tekanan inflasi dan imbal hasil berlanjut, ruang pemulihan emas cenderung tertahan; namun jika narasi beralih ke perlambatan dan peluang pelonggaran kembali menguat, emas berpotensi mendapat dukungan meskipun volatilitas tetap bergantung pada headline geopolitik. Di saat yang sama, pergerakan logam lain menunjukkan sensitivitas pasar terhadap inflasi: perak sempat anjlok 5% pada Senin dan masih berfluktuasi, sementara indeks dolar Bloomberg relatif datar setelah naik 0,4% pada sesi sebelumnya.
Variabel yang perlu diperhatikan berikutnya adalah perkembangan operasional Selat Hormuz, eskalasi atau de-eskalasi konflik (termasuk sinyal kebijakan dari AS), arah imbal hasil obligasi AS tenor panjang, pergeseran ekspektasi suku bunga The Fed dan bank sentral global, serta apakah ada perubahan berarti pada arus ETF dan indikator volatilitas yang bisa menjadi penanda katalis baru bagi pasar emas.(Asd)*
Sumber: Newsmaker.id