Obligasi Global Tertekan, Yield AS Dekati Era 2007
Imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor terpanjang kembali melonjak, menandai tekanan baru di pasar utang global ketika investor menilai risiko inflasi dan defisit fiskal semakin sulit diabaikan. Yield Treasury 30 tahun naik 7 bps ke 5,19% pada Selasa (19/5), level tertinggi dalam hampir dua dekade dan terakhir terlihat menjelang krisis keuangan global 2007.
Kenaikan yield terjadi di tengah aksi jual obligasi lintas kawasan. Lonjakan harga energi akibat perang Iran memperkuat kekhawatiran inflasi, mendorong pasar menaikkan ekspektasi bahwa bank sentral—termasuk Federal Reserve—dapat dipaksa mempertahankan kebijakan ketat lebih lama atau bahkan kembali menaikkan suku bunga. Di saat yang sama, membengkaknya defisit pemerintah membuat investor meminta kompensasi lebih besar untuk menahan surat utang jangka panjang.
Dampaknya berpotensi merembet ke ekonomi riil. Yield yang bertahan tinggi dapat mengerek biaya pinjaman rumah tangga dan korporasi di AS, serta menekan aktivitas ekonomi bila kondisi pembiayaan makin ketat. Tekanan ini juga memicu spekulasi respons kebijakan, termasuk upaya menggeser penerbitan ke tenor yang lebih pendek untuk mengurangi beban bunga jangka panjang.
Perubahan harga pasar juga menguji asumsi lama investor. Level 5% pada yield 30 tahun sebelumnya kerap dipandang sebagai “batas” yang akan memancing pembelian, tetapi pergerakan terbaru menantang pandangan tersebut dan memberi sinyal bahwa pasar Treasury US$31 triliun bisa memasuki fase baru, di mana premi risiko durasi lebih tinggi menjadi normal baru.
Repricing serupa tampak di luar AS, dengan yield gilt Inggris tenor 30 tahun mendekati 6% dan tingkat pinjaman jangka panjang Jerman berada di level tertinggi sejak 2011. Di AS, transmisi ke biaya pendanaan pemerintah mulai terlihat: lelang Treasury 30 tahun pada pertengahan Mei menjadi yang pertama sejak 2007 dengan tingkat imbal hasil di atas 5%, sementara permintaan investor dinilai tidak istimewa meski yield sudah setinggi itu.
Masuknya Ketua The Fed yang baru, Kevin Warsh, menambah fokus pasar pada arah kebijakan berikutnya. Trader kini mulai memperkirakan langkah The Fed berikutnya berpotensi berupa kenaikan suku bunga, bahkan paling cepat menjelang akhir tahun, berbalik dari ekspektasi pra-perang yang sempat mengarah pada beberapa pemangkasan pada 2026. Di tengah itu, Menteri Keuangan AS Scott Bessent menyatakan komitmen menekan biaya pinjaman, sementara estimasi median defisit dealer utama berada di US$1,95 triliun untuk tahun fiskal yang berakhir September dan melebar menuju US$2 triliun pada 2027—faktor yang dapat terus menjaga tekanan di tenor panjang dan memaksa investor menilai ulang alokasi dari saham ke obligasi saat yield menawarkan imbal hasil yang makin kompetitif.(arl)
Sumber: Newsmaker.id