Emas Jatuh Hampir 2%, Dolar dan Risiko Inflasi Menekan
Harga emas turun tajam pada Selasa (19/5), tertekan penguatan dolar AS dan kekhawatiran inflasi yang kembali mencuat di tengah ketidakpastian negosiasi damai AS–Iran. Pada 09:36 ET, emas spot turun 1,9% ke US$4.479,56 per ons, sementara emas berjangka melemah 1,6% ke US$4.485,26.
Pasar masih menilai pembicaraan Washington–Teheran buntu, meski gencatan senjata yang rapuh kini bertahan lebih lama dibanding fase awal pertempuran sejak serangan gabungan AS dan Israel pada akhir Februari. Ketidakpastian ini membuat dolar kembali mendapat dukungan sebagai aset defensif, didorong pandangan bahwa ekonomi AS sebagai eksportir energi relatif lebih terlindungi dari lonjakan harga minyak akibat perang.
Penguatan dolar ikut menekan emas karena membuat logam mulia lebih mahal bagi pembeli di luar AS. Di saat yang sama, minyak memang bergerak sedikit turun, tetapi masih bertahan jauh di atas level pra-perang, sementara imbal hasil obligasi pemerintah cenderung stabil setelah aksi jual tajam beberapa hari terakhir.
Akar kekhawatiran inflasi tetap berkaitan dengan Selat Hormuz yang secara efektif masih tertutup—jalur vital di lepas pantai selatan Iran yang biasanya dilalui sekitar seperlima pasokan minyak dunia. Risiko shock energi dinilai dapat memperpanjang inflasi dan mendorong bank sentral mempertahankan suku bunga tinggi atau bahkan mengetatkan lagi, kondisi yang biasanya kurang mendukung aset tanpa imbal hasil seperti emas.
Di jalur diplomasi, media pemerintah Iran melaporkan Teheran mengajukan proposal damai yang mencakup penghentian permusuhan di semua front (termasuk Lebanon) dan permintaan reparasi, serta tuntutan pencabutan sanksi, pencairan dana, dan penghentian blokade pelabuhan Iran. Reuters menyebut Pakistan telah menyampaikan proposal tersebut ke AS, namun tawaran terbaru dinilai tidak jauh berbeda dari syarat sebelumnya yang pekan lalu ditolak Presiden Donald Trump. Trump pada Senin mengatakan membatalkan serangan baru atas permintaan tiga pemimpin Teluk dan mengklaim “negosiasi serius” sedang berlangsung—tetapi pasar masih menunggu bukti kemajuan yang benar-benar mengubah risiko energi dan inflasi.(arl)*
Sumber: Newsmaker.id