Saham AS Turun, Trump Pertimbangkan Eskalasi Lagi
Bursa saham AS melemah pada Senin (13/4) setelah harga minyak melonjak menyusul pengumuman Presiden Donald Trump tentang blokade Selat Hormuz, sementara pembicaraan damai AS–Iran pada akhir pekan berakhir tanpa kesepakatan. Dow turun 0,7%, sedangkan S&P 500 dan Nasdaq masing-masing melemah 0,3%.
Trump menulis di Truth Social bahwa Angkatan Laut AS akan memulai proses memblokade kapal yang mencoba masuk atau keluar Selat Hormuz, dan menyebut “negara lain” akan ikut terlibat. US Central Command menyatakan penutupan akan dimulai pukul 10.00 ET Senin, dengan penegasan bahwa kapal yang menggunakan selat untuk menuju pelabuhan non-Iran tidak akan diblokir—sementara fokusnya pada lalu lintas masuk/keluar pelabuhan Iran.
Gagalnya negosiasi di Islamabad menghidupkan kembali kekhawatiran perang Iran akan berlangsung lebih lama, memperpanjang tekanan biaya energi bagi ekonomi global dan menekan valuasi aset berisiko. Wakil Presiden JD Vance meninggalkan Islamabad tanpa kesepakatan, dengan perbedaan tidak hanya soal isu nuklir, tetapi juga tuntutan Iran terkait kontrol Hormuz, kompensasi perang, dan pelepasan aset yang dibekukan. Pejabat Pakistan menyatakan akan mencoba menghidupkan kembali pembicaraan dalam beberapa hari ke depan. Wall Street Journal melaporkan Trump juga mempertimbangkan melanjutkan serangan militer.
Di tingkat emiten, Goldman Sachs menjadi salah satu penekan indeks setelah sahamnya turun sekitar 3% meski kinerja laba secara keseluruhan kuat, karena hasil trading pendapatan tetap mengecewakan. Pasar juga memasuki awal musim laporan keuangan kuartal I, dengan deretan bank besar—termasuk Citi, Wells Fargo, JPMorgan, Morgan Stanley, dan Bank of America—dijadwalkan merilis kinerja dalam pekan ini.
Penurunan pada Senin juga menandai pembalikan sentimen dibanding pekan sebelumnya, ketika harapan perang segera mereda mendorong reli kuat: S&P 500 naik 3,6%, Nasdaq 4,7%, dan Dow 3%. Kini, fokus pasar kembali pada arah minyak, eskalasi Hormuz, dan apakah diplomasi bisa dibuka kembali sebelum volatilitas makin meluas. (Arl)
Sumber: Newsmaker.id