PPI AS Melonjak, Risiko Fed Kembali Menguat
Harga produsen Amerika Serikat naik tajam pada Mei, menandakan tekanan inflasi dari sisi hulu masih kuat. Producer Price Index (PPI) meningkat 6,5% YoY, laju tercepat dalam lebih dari tiga tahun, menurut data Bureau of Labor Statistics yang dirilis Kamis.
Secara bulanan, PPI naik 1,1% dari April. Kenaikan ini menunjukkan tekanan biaya belum hanya terjadi di tingkat konsumen, tetapi juga mulai kuat di tingkat produsen. Jika biaya input terus naik, perusahaan berpotensi meneruskan sebagian tekanan tersebut ke harga jual akhir.
Pendorong utama tekanan inflasi masih berasal dari dampak perang Iran yang mengganggu pasokan energi dan jalur pengiriman. Kenaikan biaya energi biasanya cepat merembet ke ongkos produksi, logistik, dan distribusi. Jalur transmisinya jelas: energi naik, biaya bisnis naik, harga produsen naik, lalu risiko inflasi konsumen ikut bertahan.
Ukuran inti PPI, yang tidak memasukkan makanan dan energi, naik 4,9% YoY. Angka inti yang tetap tinggi menunjukkan tekanan harga tidak hanya bergantung pada komponen energi, tetapi juga mulai terlihat pada bagian ekonomi yang lebih luas.
Bagi pasar, data ini memperkuat risiko bahwa The Fed belum punya ruang besar untuk melonggarkan kebijakan. Jika tekanan harga produsen terus bertahan, ekspektasi suku bunga tinggi lebih lama atau peluang kenaikan suku bunga lanjutan dapat kembali meningkat.
Dampaknya, dolar AS dan yield Treasury berpotensi tetap mendapat dukungan, sementara aset berisiko dan logam mulia seperti emas bisa tetap tertekan. Fokus berikutnya adalah bagaimana pasar membaca kombinasi PPI tinggi, CPI yang sudah naik, harga minyak, dan perkembangan konflik Timur Tengah.(gn)*
Sumber: Newsmaker.id