Minyak Naik Lagi, Ancaman Trump dan Stok AS Jadi Katalis
Harga minyak melanjutkan kenaikkannya pada Rabu (10/6) setelah Presiden AS Donald Trump memperingatkan bahwa Washington akan kembali menyerang Iran dalam waktu dekat. Pernyataan itu memperkuat kekhawatiran bahwa konflik AS–Iran masih jauh dari selesai dan Selat Hormuz belum akan kembali normal dalam waktu dekat.
WTI naik 2,1% dan ditutup di US$90,03/barel di New York, setelah sebelumnya sempat melemah. Brent kontrak Agustus naik 1,8% ke US$93,10/barel. Kenaikan ini menunjukkan pasar kembali memasukkan premi risiko geopolitik setelah Trump mengatakan AS akan “menghantam Iran dengan keras lagi hari ini”, tanpa menyebut target serangan.
Komentar Trump menjadi penting karena berbeda dari nada sebelumnya yang sering berusaha menekan harga minyak agar tetap rendah. Kali ini, pernyataan tersebut justru memperbesar kekhawatiran bahwa eskalasi militer bisa berlanjut. Iran juga menyatakan akan tetap berdiri menghadapi ancaman apa pun, membuat peluang kompromi jangka pendek terlihat lebih sulit.
Ketegangan terbaru terjadi setelah pasukan AS menyerang sejumlah lokasi dekat Selat Hormuz. Iran kemudian disebut meluncurkan serangan drone ke Armada Kelima AS di Bahrain sebagai respons. Selain itu, Komando Pusat AS menyatakan telah melumpuhkan tanker minyak berbendera Palau, M/T Settebello, di Teluk Oman. Rangkaian insiden ini menambah risiko pada jalur energi utama kawasan.
Dari sisi fundamental, kenaikan minyak juga didukung data stok AS. Persediaan minyak mentah AS turun 7,2 juta barel pekan lalu, sementara stok di Cushing, Oklahoma, juga menyusut. Inventori nasional masih berada dekat level terendah empat bulan, mencerminkan pasokan global yang tetap ketat ketika pembeli berusaha mengganti barel yang hilang dari Teluk Persia.
Namun, pasar belum sepenuhnya membaca kondisi ini sebagai krisis pasokan total. Harga minyak masih turun lebih dari seperempat dari puncaknya pada akhir April, dibantu oleh penurunan impor China ke level multi-tahun, pelepasan cadangan darurat, dan sebagian arus minyak yang masih berhasil melewati Hormuz. Artinya, pasar fisik untuk saat ini masih terlihat cukup mampu menyerap gangguan, meski risikonya tetap tinggi.(Arl)*
Sumber : Newsmaker.id