Minyak Stabil, Fokus Risiko Hormuz dan Diplomasi AS–Iran
Harga minyak bergerak nyaris datar pada Kamis (11/6) ketika investor menimbang dua sinyal yang saling berlawanan: eskalasi perang AS–Iran yang mengancam pasokan energi, dan laporan bahwa kedua pihak masih bertukar pesan terkait kemungkinan kesepakatan awal. Brent turun tipis 0,1% ke US$92,98/barel, sementara WTI naik 0,1% ke US$90,10/barel.
Sentimen pasar tetap tegang setelah Presiden Donald Trump memperingatkan bahwa militer AS akan menghantam Iran “sangat keras” dan menyatakan Washington pada akhirnya akan mengambil kendali atas infrastruktur minyak dan gas Iran. Di sisi lain, tiga sumber Iran dan seorang pejabat Eropa menyebut AS dan Iran masih membahas rincian memorandum, termasuk mekanisme pencairan dana Iran yang dibekukan.
Selat Hormuz menjadi pusat perhatian utama. Komando militer Iran mengumumkan penutupan jalur tersebut untuk kapal tanker minyak dan kapal komersial, serta memperingatkan setiap kapal yang mencoba melintas akan diserang. Jalur ini penting karena menangani sekitar 20% pengiriman minyak dan gas global, sehingga gangguan berkepanjangan dapat memperketat pasokan dunia.
Namun, klaim di lapangan masih berbeda. Militer AS menyatakan kapal komersial masih keluar-masuk Selat Hormuz dan membantah laporan media Iran bahwa kapal perang AS terkena serangan. Data LSEG dan Kpler juga menunjukkan beberapa tanker LNG berhasil keluar dari jalur tersebut dengan transponder dimatikan menuju Asia, meski waktunya belum jelas.
Reli minyak juga tertahan oleh tanda-tanda permintaan China yang melemah. Data menunjukkan konsumsi bensin dan diesel turun, sementara impor minyak mentah juga lebih rendah. Selain itu, beberapa pembeli Asia masih mendapat pasokan, termasuk dari ADNOC, dan kilang India menyatakan telah mengamankan cukup minyak untuk kebutuhan hingga setidaknya Agustus.
Dari sisi fundamental, pasar tetap ketat. EIA melaporkan stok minyak mentah AS turun 7,2 juta barel menjadi 426,5 juta barel, lebih besar dari ekspektasi penurunan 4 juta barel. Produksi OPEC pada Mei juga turun ke level terendah lebih dari dua dekade akibat blokade dan gangguan Hormuz. Untuk saat ini, arah minyak akan bergantung pada apakah diplomasi mampu menahan eskalasi, atau apakah gangguan Hormuz benar-benar meluas.
Sumber: newsmaker.id