Kenaikan Suku Bunga ECB Tak Cukup Angkat Sentimen, Euro Melemah
Euro melemah mendekati US$1,15 dan bergerak dekat level terendah sejak awal April setelah European Central Bank (ECB) menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin. Kenaikan ini sudah sesuai ekspektasi pasar dan menjadi kenaikan pertama ECB sejak 2023.
ECB mengambil langkah tersebut karena tekanan inflasi di Zona Euro kembali meningkat, terutama akibat lonjakan biaya energi. Konflik Iran dan gangguan pengiriman minyak melalui Selat Hormuz menjadi faktor utama yang memperkuat risiko inflasi, sehingga bank sentral memilih memperketat kebijakan untuk menjaga ekspektasi harga tetap terkendali.
Namun, euro tetap melemah karena pasar lebih fokus pada kombinasi inflasi tinggi dan prospek pertumbuhan yang lebih lemah. ECB menaikkan proyeksi inflasi utama menjadi 3,0% untuk 2026 dan 2,3% untuk 2027, dari sebelumnya 2,6% dan 2,0%. Proyeksi inflasi inti juga dinaikkan menjadi 2,5% untuk dua tahun tersebut.
Di sisi lain, proyeksi pertumbuhan justru dipangkas. ECB kini memperkirakan ekonomi Zona Euro tumbuh 0,8% pada 2026 dan 1,2% pada 2027, lebih rendah dari estimasi sebelumnya masing-masing 0,9% dan 1,3%. Kombinasi inflasi lebih tinggi dan pertumbuhan lebih rendah membuat investor berhati-hati terhadap prospek euro.
Dolar AS tetap relatif kuat karena ketegangan Timur Tengah belum mereda. Serangan militer yang berulang dan hambatan diplomasi AS–Iran membuat permintaan terhadap dolar sebagai aset aman tetap terjaga. Kondisi ini membatasi ruang pemulihan EUR/USD meski ECB sudah menaikkan suku bunga.
Untuk saat ini, arah euro akan bergantung pada nada komunikasi ECB setelah kenaikan suku bunga, perkembangan harga energi, dan apakah konflik AS–Iran dapat mereda. Jika risiko energi tetap tinggi sementara pertumbuhan Eropa melemah, euro berpotensi tetap defensif terhadap dolar.(yds)
Sumber: newsmaker.id