IHSG Stabil Meski Dibuka Gap Down, Fokus Beralih ke Data Ritel
IHSG membuka perdagangan dengan gap down di 7.410,08 dan sempat turun ke 7.351,36 pada satu jam pertama, sebelum memangkas pelemahan dan bertahan di atas 7.400. Pada sesi pagi, indeks berada di sekitar 7.441,37 atau turun 0,23% dari penutupan Jumat, dengan sentimen global masih membayangkan kegagalan perundingan damai AS–Iran sepanjang akhir pekan.
Tekanan terlihat pada saham-saham perbankan besar yang menyeret sejumlah indeks sektoral, dengan INFOBANK15 turun 0,73% dipimpin penurunan BBTN, BBNI, BMRI, dan ARTO. Meski demikian, IHSG berupaya menutup kesenjangan seiring pasar mencerna kembali dampak eskalasi di Timur Tengah terhadap inflasi dan arus modal.
Secara eksternal, JD Vance mengonfirmasi perundingan AS–Iran di Pakistan berakhir tanpa kesepakatan. CENTCOM menyatakan akan memulai blokade lalu lintas kapal yang masuk/keluar pelabuhan Iran mulai Senin pukul 14:00 GMT (21:00 WIB), namun tidak membatasi kapal yang lewat Hormuz ke pelabuhan non-Iran. Harga WTI membuka gap up di area US$97, memperkuat kekhawatiran inflasi global, meski Indonesia menahan kenaikan harga BBM bersubsidi hingga akhir tahun sehingga memberi bantalan sentimen domestik.
Dari sisi domestik, perhatian pasar memperhatikan data Sales Ritel Indonesia Februari yang dirilis hari ini pukul 10:00 WIB. Karena periode data yang terjadi sebelum konflik AS–Israel dengan Iran memanas, dampaknya ke pasar diperkirakan terbatas. Agenda berikutnya yang lebih krusial adalah keputusan suku bunga Bank Indonesia pekan depan, dengan pernyataan RDG menjadi kunci untuk membaca respons BI terhadap risiko geopolitik dan inflasi energi.
Di pasar pendapatan tetap, imbal hasil SUN 10Y berada di 6,555% dan relatif stabil, melanjutkan penurunan dari level tinggi 2026 pada 16 Maret. Di komoditas domestik, harga emas Antam 1 gram naik Rp10.000 menjadi Rp2.860.000, sementara XAU/USD membuka gap down di sekitar US$4.661/oz dan berupaya menutup gap pada sesi Asia.(asd)
Sumber: Newsmaker.id