Pasar Asia Kembali Mengalami Kenaikan, Bisakah Reli Bertahan?
Pasar Asia mengalami reli pada hari Rabu (8 April) setelah Presiden AS Donald Trump mengumumkan gencatan senjata dengan Iran, memicu reli aset berisiko dan menekan harga minyak. Saham dan obligasi pemerintah mengalami reli pada perdagangan pagi, sementara harga minyak turun tajam karena kekhawatiran tentang inflasi yang didorong oleh komoditas mulai mereda, terutama di Asia, importir energi utama.
Trump setuju untuk menangguhkan serangan terhadap Iran selama dua minggu, dengan syarat pembukaan kembali segera Selat Hormuz, jalur air strategis yang dilalui sekitar seperlima minyak dunia. Penutupan efektif jalur air ini sebelumnya tidak hanya mengganggu pasokan minyak tetapi juga menghambat pasokan komoditas lain seperti pupuk, menjadikannya titik penting dalam upaya de-eskalasi. Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran juga dilaporkan menyetujui jalur aman kapal melalui selat tersebut dan menyatakan bahwa negosiasi dengan AS akan dimulai pada hari Jumat.
Harga minyak kembali turun di bawah US$100 per barel. Kontrak WTI bulan depan turun sekitar 14% menjadi US$97,59, sementara Brent turun 12,5% menjadi US$95,65. Beberapa analis percaya bahwa penurunan harga energi berpotensi mengurangi tekanan konsumen dan menurunkan ekspektasi inflasi, yang telah menjadi beban utama bagi pasar saham dalam beberapa minggu terakhir.
Namun, pasar tetap berhati-hati. Saxo Markets memandang berita ini sebagai hal yang konstruktif karena diplomasi semakin maju, tetapi ujian sebenarnya adalah apakah gencatan senjata akan berkembang menjadi kesepakatan yang langgeng atau hanya jeda yang rapuh. eToro percaya investor harus menghindari euforia yang berlebihan, karena tenggat waktu dua minggu bukanlah solusi permanen, terutama mengingat pola tenggat waktu yang ditetapkan dan diperpanjang berulang kali dalam dinamika politik sebelumnya. Jika dua minggu berlalu tanpa kesepakatan, pasar dianggap rentan terhadap pembalikan tajam.
Sementara itu, selera risiko telah kembali secara luas di seluruh wilayah. Indeks Nikkei Jepang naik 4,4% pada perdagangan awal, indeks Kospi Korea Selatan melonjak 5,1% didorong oleh kenaikan saham chip, dan indeks S&P/ASX 200 Australia naik 2,5%. Obligasi pemerintah menguat (imbal hasil turun), sementara sebagian besar mata uang Asia menguat terhadap dolar yang melemah; Bitcoin bertahan di atas US$70.000, dan emas serta perak kembali menguat. Keberlanjutan reli ini, menurut para analis, akan sangat bergantung pada bukti pembukaan jalur pelayaran dan kemajuan nyata dalam menyelesaikan konflik. (asd)
Sumber: Newsmaker.id