Emas Sentuh Low Enam Bulan Terbebani USD, Hawkish Fed
Harga emas melemah ke level terendah enam bulan pada Kamis (11/6), menghapus seluruh kenaikan sepanjang tahun ini. XAU/USD sempat turun ke US$4.023/oz, level terendah sejak November 2025, sebelum bergerak datar di sekitar US$4.080/oz.
Tekanan utama datang dari kombinasi ekspektasi bank sentral yang makin hawkish, penguatan dolar AS, dan aksi jual teknikal. Dalam kondisi pasar yang defensif, investor justru lebih memilih dolar sebagai aset aman dibanding emas, terutama karena dolar masih didukung oleh prospek suku bunga yang lebih tinggi.
Perang AS–Iran membuat status emas sebagai safe haven kembali diuji. Meski ketegangan Timur Tengah meningkat, emas justru turun sekitar 25% sejak perang dimulai pada akhir Februari dan hampir 27% dari rekor Januari di sekitar US$5.600/oz. Artinya, pasar lebih fokus pada dampak inflasi dan suku bunga daripada risiko geopolitik itu sendiri.
Jalur fundamentalnya jelas: konflik Timur Tengah mendorong harga minyak naik, lalu memicu tekanan inflasi. Inflasi AS meningkat dari 2,4% pada Januari menjadi 4,2% pada Mei, tertinggi sejak April 2023. Kondisi ini membuat pasar menilai The Fed bisa mempertahankan kebijakan ketat atau bahkan menaikkan suku bunga tahun ini.
Data PPI AS terbaru memperkuat gambaran tersebut. Producer Price Index naik 6,5% YoY pada Mei dari 5,7% pada April, sedikit di atas perkiraan 6,4%. Namun, core PPI tetap di 4,9%, lebih rendah dari konsensus 5,4%. Meski data inti lebih jinak, tekanan harga utama tetap tinggi karena energi masih menjadi sumber risiko utama.
Bagi emas, suku bunga tinggi menjadi beban besar karena logam ini tidak memberikan imbal hasil. Ketika yield dan dolar lebih menarik, permintaan emas cenderung tertahan. Untuk saat ini, arah XAU/USD masih bergantung pada perkembangan AS–Iran, harga minyak, arah dolar, dan apakah data inflasi berikutnya terus memperkuat peluang kenaikan suku bunga The Fed.(yds)*
Sumber: Newsmaker.id