Minyak Rally 4 Sesi, Pasar Takut Pasokan Terganggu
Harga minyak kembali menguat pada perdagangan Rabu (19/8) dan mencatat kenaikan untuk sesi keempat berturut-turut. Brent naik sekitar 0,3% ke US$91,32 per barel, sementara WTI menguat 0,4% ke US$85,28. Keduanya kini bergerak di sekitar level tertinggi tiga pekan, ditopang kekhawatiran bahwa ketegangan AS-Iran dapat membuat pasokan global tetap ketat dalam beberapa bulan ke depan.
Faktor utama masih datang dari Selat Hormuz. Data pelayaran menunjukkan lalu lintas tanker melalui jalur strategis tersebut terus menurun. Hanya enam kapal komoditas yang melintas pada Selasa, turun dari sembilan kapal sehari sebelumnya dan di bawah rata-rata harian 10 hari sebanyak 11 kapal. Penurunan aktivitas ini memperkuat kekhawatiran pasar terhadap kelancaran ekspor energi dari kawasan Teluk.
Ketegangan diplomatik juga belum menunjukkan tanda mereda. Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio dilaporkan membahas keamanan Teluk dan kebebasan navigasi di Hormuz dengan penasihat keamanan nasional Uni Emirat Arab. Sementara itu, Presiden Donald Trump menegaskan tidak ada pembicaraan dengan Iran yang sedang berlangsung maupun dijadwalkan.
Iran juga membantah adanya negosiasi dengan Washington dan menolak klaim AS bahwa Hormuz telah kembali terbuka. Teheran menyatakan jalur tersebut akan tetap ditutup sampai AS memenuhi sejumlah persyaratan dalam kesepakatan sementara yang telah berakhir. Berakhirnya kerangka perjanjian itu tanpa tanda-tanda perpanjangan membuat risiko geopolitik tetap tinggi.
Dukungan tambahan bagi harga minyak datang dari laporan American Petroleum Institute yang menunjukkan persediaan minyak mentah AS turun tipis pekan lalu. Data tersebut meningkatkan ekspektasi bahwa laporan resmi persediaan EIA juga dapat menunjukkan penurunan. Stok AS yang mengecil menjadi sinyal tambahan bahwa kondisi pasokan domestik bisa semakin ketat, terutama di tengah tekanan terhadap cadangan minyak strategis.
Analisis Newsmaker: Bias minyak masih cenderung bullish selama ketidakpastian Hormuz belum mereda dan stok AS terus menurun. Brent berpeluang mempertahankan area di atas US$90 dan kembali menguji US$92–US$93 jika gangguan pelayaran memburuk. Namun, karena harga telah naik empat sesi berturut-turut, pasar juga mulai rawan profit taking jika data EIA menunjukkan kenaikan stok atau muncul tanda-tanda deeskalasi AS-Iran. (arl)
Sumber : Newsmaker.id