Minyak Bertahan di Tertinggi Tiga Pekan, Hormuz Masih Jadi Penopang
Harga minyak ditutup menguat pada perdagangan Selasa (18/8) dan mencapai level tertinggi dalam lebih dari tiga pekan. Brent naik tipis sekitar 0,2% ke US$91,02 per barel, sementara WTI menguat sekitar 0,5% ke US$84,94. Kedua kontrak mencatat penutupan tertinggi sejak 24 Juli.
Sentimen masih ditopang sikap keras Iran yang menyatakan akan mengambil pendekatan militer lebih ofensif dan mempertahankan penutupan Selat Hormuz. Pada saat yang sama, Amerika Serikat menolak memperpanjang kesepakatan gencatan senjata sementara, sehingga peluang penyelesaian konflik dalam waktu dekat semakin mengecil.
Namun, kenaikan minyak mulai terbatas karena pasar melihat sebagian pasokan masih berhasil keluar dari kawasan Teluk. Saudi Aramco kembali melakukan pemuatan minyak dari dalam Hormuz dan menawarkan kargo melalui transfer antarkapal di sekitar Fujairah, Uni Emirat Arab.
Dua perusahaan pelayaran besar China juga mulai mengambil kargo minyak dari luar Teluk. Selain itu, sejumlah kapal dilaporkan tetap melintasi Hormuz dengan transponder dimatikan, sehingga volume ekspor aktual kemungkinan lebih besar dibanding data pelayaran resmi.
Arus minyak tersebut membantu meredakan kekhawatiran terhadap kekurangan pasokan secara ekstrem. Meski demikian, lalu lintas kapal yang terpantau melalui Hormuz masih berada di level sangat rendah, sehingga risiko gangguan suplai belum sepenuhnya hilang.
Analisis Newsmaker: Brent masih mendapat dukungan geopolitik selama Hormuz tetap terganggu dan diplomasi AS-Iran buntu. Namun, keberhasilan produsen Teluk mempertahankan sebagian ekspor membuat reli cenderung lebih terbatas. Selama Brent bertahan di atas US$90, peluang menuju US$92–US$95 tetap terbuka, sementara peningkatan arus minyak dapat memicu koreksi kembali ke area US$89–US$88.(yds)
Sumber: Newsmaker.id