Emas Menguat Setelah Yield Obligasi AS Mulai Stabil
Harga emas menguat setelah tekanan dari pasar obligasi Amerika Serikat mulai mereda. Bullion naik hingga 0,6% dan bergerak di atas US$4.355 per troy ounce, setelah pada sesi sebelumnya turun hampir 2%, menjadi pelemahan harian terbesar dalam hampir satu bulan.
Kenaikan emas terjadi setelah Treasury mulai stabil usai mengalami aksi jual tajam. Sebelumnya, mencantumkan imbal hasil obligasi AS tenor 30 tahun ke level tertinggi dalam hampir dua dekade sempat menekan emas, karena biaya pinjaman yang lebih tinggi biasanya menjadi beban bagi aset yang tidak memberikan imbal hasil bunga.
Dalam beberapa pekan terakhir, emas berhasil pulih dan bergerak di sekitar US$4.400 per troy ounce. Dukungan datang dari meningkatnya permintaan investor serta pembelian bank sentral, terutama dari China. Survei fund manager Bank of America juga menunjukkan semakin banyak manajer investasi yang menilai emas masih undervalued, dengan proporsi tertinggi sejak Maret 2023.
Meski begitu, prospek kenaikan emas masih dibatasi oleh meredupnya harapan kesepakatan damai antara Amerika Serikat dan Iran. Presiden AS Donald Trump menegaskan tidak ada pembicaraan yang sedang berlangsung dengan Teheran, sementara status Selat Hormuz masih belum jelas setelah nota kesepahaman yang ditandatangani kedua negara pada bulan Juni berakhir tanpa rencana perpanjangan.
Ketidakpastian Hormuz turut menopang harga minyak dan menjaga risiko inflasi energi tetap tinggi. Kondisi ini dapat menekan Federal Reserve untuk mempertahankan sikap ketatnya atau bahkan membuka peluang kenaikan suku bunga, yang menjadi hambatan bagi emas. Fokus pasar kini disiarkan pada rilis risalah rapat The Fed bulan Juli dan pidato Ketua The Fed Kevin Warsh di simposium Jackson Hole pekan depan.
Pada perdagangan terbaru, spot emas naik 0,5% ke US$4.357,07 per troy ounce pada pukul 11.34 waktu Singapura. Sementara itu, perak turun 0,6% menjadi US$62,99 per ounce, platinum dan paladium menguat tipis, sedangkan Bloomberg Dollar Spot Index melemah 0,1%.
Analisa Newsmaker: Pergerakan emas saat ini masih dalam fase pemulihan, tetapi belum sepenuhnya bebas dari tekanan. Stabilnya imbal hasil AS memberi ruang bagi XAU/USD untuk rebound, namun dekat Selat Hormuz, harga minyak yang masih tinggi, dan arah kebijakan The Fed tetap menjadi faktor pembatas. Selama emas mampu bertahan di atas area US$4.300, peluang menuju kembali ke US$4.400 masih terbuka, tetapi jika risalah The Fed bernada hawkish, emas berisiko kembali terkoreksi. (asd)*
Sumber: Newsmaker.id