AS-Iran Makin Panas, Eropa Bisa Jadi Front Baru
Ketegangan antara AS dan Iran kembali meningkat setelah Financial Times melaporkan bahwa Teheran sempat mempertimbangkan kemungkinan menyerang target militer AS di Eropa jika perang terus mengalami eskalasi. Mengutip dua sumber internal pemerintah Iran, laporan tersebut menyebut aset Amerika di Bulgaria dan Siprus termasuk dalam daftar target yang dipertimbangkan. Informasi ini belum diverifikasi secara independen oleh CNBC.
Munculnya opsi serangan di luar kawasan Timur Tengah menunjukkan bahwa konflik berpotensi memasuki fase yang lebih luas. Negosiasi antara Washington dan Teheran untuk mengakhiri perang sejauh ini masih buntu, sementara belum terlihat tanda bahwa pembicaraan akan kembali dimulai dalam waktu dekat.
Tekanan terhadap Iran juga semakin besar setelah Uni Emirat Arab mengumumkan penghentian sementara seluruh perdagangan, pertukaran komersial, dan transaksi keuangan dengan Teheran. Keputusan itu muncul setelah UEA melaporkan mendeteksi dua rudal balistik yang diluncurkan dari Iran menuju perairan teritorialnya. Kedua rudal dilaporkan jatuh ke laut tanpa menimbulkan korban maupun kerusakan, sementara Iran membantah telah menargetkan UEA.
Di saat yang sama, Presiden AS Donald Trump menegaskan bahwa Washington tidak sedang melakukan pembicaraan dengan Iran dan tidak memiliki rencana untuk segera memulai kembali negosiasi. Trump juga menolak memperpanjang kesepakatan gencatan senjata 60 hari yang berakhir awal pekan ini, membuat peluang penyelesaian diplomatik semakin kecil.
Selat Hormuz tetap menjadi pusat perselisihan. Trump berulang kali menyatakan jalur perdagangan energi tersebut telah terbuka dan berada di bawah kendali AS. Namun, lalu lintas kapal yang terpantau masih sangat rendah, sementara serangan terhadap sebuah kapal kargo yang melintas di Hormuz sebelumnya dilaporkan menewaskan satu orang. Pernyataan keras dari pihak militer Iran terhadap kapal-kapal yang mencoba melintas semakin memperbesar kekhawatiran terhadap keamanan jalur energi strategis tersebut.
Analisis Newsmaker: jika konflik benar-benar meluas hingga mencakup target AS di Eropa atau negara-negara Teluk lainnya, sentimen risk-off global berpotensi meningkat tajam. Minyak berpeluang mendapatkan tambahan risk premium akibat ancaman terhadap Hormuz, sementara emas dapat kembali diburu sebagai aset safe haven. Namun, lonjakan minyak juga dapat memperkuat kekhawatiran inflasi dan mendorong yield obligasi lebih tinggi, sehingga dampaknya terhadap emas dapat menjadi lebih volatil. Untuk pasar global, perkembangan ini meningkatkan risiko bahwa konflik AS-Iran tidak lagi terbatas pada Teluk Persia, tetapi berkembang menjadi krisis geopolitik yang jauh lebih luas. (arl)
Sumber : Newsmaker.id