Dolar Tertekan, Sinyal Fed Jadi Pertaruhan Besar
Dolar AS masih berada di bawah tekanan pada perdagangan Rabu (19/8) setelah penurunan yield Treasury memberikan ruang bagi aset berisiko dan mata uang utama untuk menguat. Indeks spot dolar turun sekitar 0,2% ke area 99,48, bertahan dekat level terendah sejak 5 Juni 2026.
Tekanan terhadap greenback muncul setelah serangkaian data ekonomi AS menunjukkan tanda-tanda pendinginan. Inflasi CPI yang relatif lebih lunak serta kontraksi payroll Juli secara tak terduga membuat pasar semakin mengurangi ekspektasi kenaikan suku bunga Federal Reserve dalam beberapa bulan mendatang.
Pasar obligasi juga mulai sedikit tenang. Yield Treasury AS tenor 10 tahun turun ke sekitar 4,68%, sementara yield 30 tahun melemah ke 5,27%. Penurunan yield ini mengurangi daya tarik dolar dan membantu mendorong aliran modal kembali ke sejumlah aset global.
Fokus utama pasar kini tertuju pada risalah rapat FOMC Juli. Investor akan mencermati apakah keputusan 9-3 untuk mempertahankan suku bunga di kisaran 3,50%–3,75% menandakan kecenderungan The Fed untuk menahan suku bunga lebih lama, atau justru menunjukkan bahwa kelompok hawkish masih memiliki pengaruh kuat di tengah risiko inflasi dari kenaikan harga energi.
Pelemahan dolar turut menopang mata uang utama lainnya. Euro menguat sekitar 0,2%, sementara poundsterling juga naik mendekati US$1,3520. Di Asia, yen Jepang berada di sekitar 159,22 per dolar, tetap dekat level psikologis 160 yang meningkatkan kewaspadaan terhadap kemungkinan intervensi kembali dari otoritas Jepang.
Analisis Newsmaker: Dolar AS masih cenderung defensif selama yield Treasury melemah dan ekspektasi kenaikan suku bunga Fed terus menurun. Namun, FOMC Minutes menjadi katalis utama berikutnya. Jika risalah menunjukkan nada lebih hawkish, dolar berpeluang rebound dari level rendah saat ini. Sebaliknya, jika The Fed terlihat semakin condong mempertahankan suku bunga, tekanan terhadap dolar dapat berlanjut dan memberi ruang tambahan bagi euro, poundsterling, serta mata uang utama lainnya. (arl)
Sumber : Newsmaker.id