Minyak Melonjak Setelah Iran Tegaskan Simpan Uranium, Pasokan Hormuz Terbatas
Harga minyak melonjak pada perdagangan Kamis (21/5) setelah laporan Reuters menyebut bahwa Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Mojtaba Khamenei, memerintahkan agar uranium mendekati tingkat senjata tetap berada di dalam negeri. Brent naik 3,3% menjadi $108,53 per barel, sedangkan WTI naik 3,7% ke $101,93 per barel, setelah sebelumnya turun lebih dari 5% sehari sebelumnya.
Langkah Iran ini menegaskan posisi keras terhadap salah satu tuntutan utama AS, sekaligus menambah ketidakpastian dalam negosiasi damai terkait perang AS-Israel terhadap Iran. Islamabad meningkatkan upaya diplomatik untuk mempercepat pembicaraan, sementara Iran meninjau respons terbaru AS. Presiden Donald Trump menyatakan bersedia menunggu beberapa hari untuk jawaban “tepat” dari Tehran, namun tetap mempertahankan opsi serangan kembali.
Selat Hormuz, jalur pengiriman penting yang membawa sekitar 20% konsumsi energi global, tetap sebagian besar tertutup. Iran membentuk “Persian Gulf Strait Authority” untuk mengontrol jalur ini. Meskipun gencatan senjata sejak April menghentikan sebagian besar pertempuran, blokade pantai AS dan pembatasan Iran terhadap lalu lintas menekan pasokan.
Penurunan persediaan minyak global semakin tajam. EIA AS melaporkan penarikan hampir 10 juta barel dari Strategic Petroleum Reserve dalam seminggu, rekor tertinggi, sementara stok minyak mentah juga turun lebih dari perkiraan. Kepala IEA, Fatih Birol, memperingatkan bahwa permintaan puncak musim panas dan minimnya ekspor baru dari Timur Tengah dapat mendorong pasar ke “zona merah” pada Juli-Agustus. CEO ADNOC, Sultan Al Jaber, menambahkan bahwa aliran minyak penuh melalui Hormuz baru bisa kembali pada kuartal pertama atau kedua 2027, meski konflik berakhir saat ini.
Variabel yang perlu dipantau: respons Iran terhadap proposal AS, pergerakan aliran minyak melalui Selat Hormuz, tingkat stok global, dan perkembangan diplomasi AS-Iran.(arl)
Sumber: newsmaker.id