Emas Gagal Berjuang disesi Asia!
Harga emas (XAU/USD) turun pada Kamis (21/5), terdorong oleh penguatan dolar AS yang didukung sentimen hawkish dari Federal Reserve. Bullion gagal memanfaatkan kenaikan tipis sesi Asia, bergerak di sekitar $4,450, level terendah sejak 30 Maret.
Minutes rapat Fed April 28–29 menunjukkan mayoritas pembuat kebijakan menilai kenaikan suku bunga masih mungkin jika inflasi tetap di atas target 2%. Risiko inflasi yang condong ke atas dan ketegangan Timur Tengah membuat dolar tetap kuat, membatasi pergerakan positif emas.
Alat CME Group FedWatch mencatat pasar memberi peluang lebih dari 50% bahwa Fed akan menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin pada 2026, mendukung USD dan menekan bullion yang tidak memberi imbal hasil.
Sinyal optimisme muncul dari pernyataan Trump dan Wakil Presiden JD Vance bahwa Iran ingin mencapai kesepakatan, yang sempat mendorong kepercayaan investor dan memberi sedikit dukungan terhadap emas. Namun, pernyataan Trump soal kemungkinan tindakan militer jika Iran menolak kesepakatan membatasi sentimen positif tersebut.
Iran menentang ancaman AS dan memperingatkan bahwa serangan baru dari AS atau Israel dapat memperluas konflik. Negara ini juga membentuk “Persian Gulf Strait Authority” untuk mengontrol lalu lintas di Selat Hormuz, menjaga risiko geopolitik tetap tinggi.
Ketidakpastian geopolitik ini menjaga harga emas relatif stabil meski dolar kuat, menuntut kehati-hatian bagi investor yang menargetkan penguatan bullion dalam jangka pendek.
Poin Utama:
- Emas turun di sekitar $4,450, terendah sejak 30 Maret.
- Dolar AS menguat seiring sentimen hawkish Fed.
- Pasar memperkirakan kemungkinan kenaikan suku bunga 25 bps di 2026.
- Optimisme AS-Iran beri sedikit dukungan, tapi dibatasi ancaman militer.
- Geopolitik Selat Hormuz batasi pergerakan signifikan emas..(asd)
Sumber : Newsmaker.id