Dolar Menguat, Yen dan Euro Terdorong Ketegangan Timur Tengah
Dolar AS menguat pada Kamis (21/5) setelah laporan Reuters menyebut bahwa Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Mojtaba Khamenei, memerintahkan uranium mendekati tingkat senjata tetap berada di dalam negeri, yang dapat memperumit negosiasi damai AS-Israel dengan Iran. Kenaikan dolar didorong oleh permintaan safe-haven di tengah lonjakan harga energi yang membebani ekonomi pengimpor minyak seperti Jepang dan zona euro.
USD/JPY naik 0,2% menjadi 159,110 yen, setelah turun untuk pertama kalinya dalam delapan sesi pada Rabu. Bank of Japan board member, Junko Koeda, menambahkan dukungan untuk yen dengan komentar hawkish terkait kebutuhan menaikkan suku bunga lebih lanjut seiring inflasi mendekati target 2%.
EUR/USD turun 0,26% ke $1,15935, setelah menyentuh level terendah sejak 7 April. Aktivitas ekonomi zona euro menyusut pada laju terkuat lebih dari dua setengah tahun pada Mei, akibat lonjakan biaya hidup yang terkait perang dan pemangkasan tenaga kerja di sektor jasa. Trader kini memperhitungkan dua kali kenaikan suku bunga ECB tahun ini, dengan peluang lebih dari 50% untuk pengetatan ketiga.
GBP/USD turun 0,4% menjadi $1,34334, terdorong data PMI yang lebih lemah dari perkiraan. AUD/USD melemah 0,4% ke $0,7124 setelah data pengangguran Australia naik ke level tertinggi sejak 2021, mengurangi ekspektasi pengetatan suku bunga Reserve Bank of Australia.
Indeks dolar DXY naik 0,2% ke 99,365, mendekati puncak sesi sebelumnya di 99,472, level tertinggi sejak 7 April. Fokus pasar tetap pada dampak inflasi dari harga energi tinggi, seiring Selat Hormuz tetap sebagian besar tertutup untuk pengiriman.
Variabel yang perlu dipantau: perkembangan negosiasi AS-Iran, pergerakan harga minyak dan energi, langkah kebijakan Fed dan ECB, serta data tenaga kerja utama.(arl)*
Sumber: newsmaker.id