Pasar Cemas Pasokan, Brent Bertahan US$107
Harga minyak stabil pada Rabu (13/5), ketika pasar menilai konflik Timur Tengah belum menunjukkan jalan keluar jelas. Brent diperdagangkan di sekitar US$107/barel dan WTI sekitar US$102/barel, setelah kenaikan hampir 4% pada sesi sebelumnya.
Tekanan pasokan disebut makin terasa dari sisi Iran. Citra satelit menunjukkan tidak ada tanker laut yang terlihat di Pulau Kharg selama beberapa hari terakhir, mengindikasikan jeda yang lebih panjang di pusat ekspor utama Iran sejak permusuhan dimulai, seiring blokade angkatan laut AS dan pengetatan di sekitar Selat Hormuz.
Presiden Donald Trump mengatakan isu perang Iran kecil kemungkinan menjadi fokus utama dalam pertemuan dengan Presiden Xi Jinping di Beijing pekan ini, dengan pembahasan dagang diprioritaskan. Meski Trump menyebut “Iran sangat terkendali”, perang dinilai tetap menambah tekanan politik domestik setelah data AS menegaskan konflik kembali memicu inflasi, termasuk harga bensin yang melonjak ke level tertinggi sejak 2022.
Societe Generale menyoroti risiko utama ada pada perbedaan timing antara pasar berjangka dan pasar fisik: harga bisa bereaksi cepat terhadap kabar “pembukaan kembali”, sementara perbaikan keseimbangan pasokan fisik datang jauh belakangan. Terhentinya arus minyak, gas, dan bahan bakar juga memperbesar kekhawatiran terhadap pertumbuhan global.
Gangguan rantai pasok paling terasa di Asia. Jepang, yang biasanya bergantung sekitar 90% pada minyak dari Timur Tengah, dilaporkan mencari alternatif termasuk pembelian minyak Meksiko untuk pertama kali sejak 2023. Di sisi lain, perusahaan minyak negara Vietnam meminta AS mengizinkan sebuah supertanker melintas blokade karena dinilai krusial bagi ekonomi, sementara aktivitas perdagangan Brent juga menurun tajam dari pekan lalu, menandakan partisipasi pasar mulai menyusut meski harga tetap tinggi.(asd)*
Sumber: Newsmaker.id