Minyak Menguat, Ketidakpastian Konflik Iran Jaga Premi Risiko Pasokan
Harga minyak naik pada Jumat (01/05), seiring upaya menghentikan perang Iran belum menunjukkan kemajuan berarti dan risiko gangguan pasokan tetap tinggi. Tehran masih memblokade Selat Hormuz, sementara Angkatan Laut AS disebut menahan ekspor minyak mentah Iran. Pada saat artikel ini dirilis, Brent menguat hampir 1% ke US$111,23, sementara WTI juga alami kenaikan sebesar 1,58% ke US$107,35.
Di sisi lain, Brent untuk Juli naik US$1,13 (1%) ke US$111,53 per barel pada 11:03 GMT, sementara WTI naik 58 sen (0,6%) ke US$105,65. Secara mingguan, Brent bersiap mencatat kenaikan 5,8% dan WTI berpotensi menguat 11,8%.
Reli berlanjut setelah serangan AS dan Israel terhadap Iran pada akhir Februari, yang memicu penutupan Selat Hormuz dan mengganggu pengapalan sekitar seperlima pasokan minyak dunia serta LNG. Kontrak Brent bulan Juni sempat menyentuh US$126,41 per barel sebelum kedaluwarsa pada Kamis, level tertinggi sejak Maret 2022.
Meski gencatan senjata disebut berlaku sejak 8 April, sinyal diplomatik masih rapuh. Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran Esmaeil Baghaei mengatakan tidak realistis mengharapkan hasil cepat dari pembicaraan dengan AS, menurut kantor berita IRNA. Dari sisi kawasan, penasihat presiden UEA Anwar Gargash menyatakan pengaturan sepihak Iran terkait kebebasan navigasi di Selat Hormuz tidak dapat dipercaya.
Risiko eskalasi juga kembali mengangkat volatilitas intraday, setelah seorang pejabat senior Garda Revolusi Iran mengancam “serangan panjang dan menyakitkan” ke posisi AS jika Washington memperbarui serangan. Di Washington, Presiden AS Donald Trump dijadwalkan menerima briefing terkait rencana serangkaian serangan militer baru untuk menekan Iran kembali bernegosiasi, menurut sumber pejabat AS kepada Reuters. Pasar kini memantau perkembangan keamanan Selat Hormuz, arus ekspor Iran, serta arah diplomasi AS-Iran sebagai penentu utama premi risiko minyak dalam waktu dekat. (srh)*
Sumber: Newsmaker.id