Minyak Naik, Risiko Pasokan Saudi Tahan Tekanan “Ceasefire”
Harga minyak naik untuk hari kedua setelah Arab Saudi menyatakan kapasitas produksinya berkurang akibat serangan terhadap infrastruktur energi. Meski begitu, pergerakan mingguan masih mengarah pada penurunan terbesar sejak Juni, seiring meredanya premi risiko setelah Amerika Serikat dan Iran mengumumkan gencatan senjata pada Selasa.
West Texas Intermediate (WTI) kembali naik dan diperdagangkan di atas US$98 per barel setelah melonjak 3,7% pada Kamis dalam perdagangan yang bergejolak. Namun WTI masih turun lebih dari 10% sepanjang pekan ini. Di sisi lain, Brent berada di kisaran US$96 per barel.
Kantor berita resmi Arab Saudi menyebut kapasitas produksi minyak kerajaan turun sekitar 600.000 barel per hari akibat serangan pada infrastruktur energi. Angka tersebut setara sekitar 10% dari ekspor normal Saudi, menurut perhitungan Bloomberg. Gangguan ini menambah perhatian pasar terhadap potensi ketatnya pasokan di tengah volatilitas geopolitik.
Serangan juga dilaporkan mengenai stasiun pemompaan yang melayani pipa East-West, jalur yang digunakan Saudi untuk mengirim minyak melalui Laut Merah. Dampaknya, throughput harian turun 700.000 barel pada pekan ini. Kuwait turut melaporkan upaya pencegatan serangan drone dan menyatakan sejumlah fasilitas vital menjadi target.
Di tingkat kebijakan, negara-negara yang bergantung pada pasokan Timur Tengah mulai menyiapkan bantalan. Jepang menyatakan akan melepas sekitar 20 hari pasokan minyak dari cadangan pada Mei. Amerika Serikat juga menawarkan hingga 30 juta barel dari Strategic Petroleum Reserve (SPR) melalui skema pertukaran untuk membantu menahan kenaikan biaya energi akibat gangguan di kawasan.
Fokus pasar kini mengarah pada perkembangan di Selat Hormuz, jalur strategis yang sempat terganggu sejak akhir Februari dan memukul aliran sekitar seperlima pasokan minyak global serta LNG, memicu guncangan pasokan. Presiden AS Donald Trump menyatakan optimistis terhadap kesepakatan dengan Iran, tetapi juga memperingatkan Teheran terkait dugaan pungutan biaya bagi kapal tanker. Pertemuan delegasi AS yang dipimpin Wakil Presiden JD Vance dengan pejabat Iran pada Sabtu diperkirakan akan menjadi penentu arah normalisasi arus energi.
5 poin inti:
- Minyak naik dua hari dipicu kabar gangguan kapasitas Saudi, tetapi tetap menuju penurunan mingguan terbesar sejak Juni.
- Saudi menyebut kapasitas produksi turun sekitar 600.000 bph akibat serangan infrastruktur; throughput pipa East-West turun 700.000 bph pekan ini.
- Risiko pasokan meningkat, terutama untuk pasar Asia, seiring gangguan jalur ekspor yang menjadi opsi bypass Selat Hormuz.
- Jepang dan AS mulai mengandalkan cadangan: Jepang melepas sekitar 20 hari stok pada Mei; AS menawarkan hingga 30 juta barel dari SPR via exchange.
- Perhatian utama pasar bergeser ke Selat Hormuz dan pembicaraan AS-Iran, di tengah ancaman biaya lintasan tanker dan arus energi yang belum pulih.(asd)
Sumber: Newsmaker.id