Brent Sentuh Puncak 4 Tahun, Lalu Terkoreksi Tajam
Harga minyak Brent merosot pada hari Kamis (30/4) setelah sempat menembus level tertinggi empat tahun, di tengah pasar yang masih menilai konflik AS–Iran berpotensi berlarut dan terus menahan arus energi lewat Selat Hormuz. Kontrak Brent bulan Juni sempat melesat di atas US$126 per barel sebelum berbalik turun dan ditutup melemah 3,4% di US$114,01. WTI Juni juga turun 1,7% dan menetap di US$105,07.
Pergerakan intrahari yang tajam terjadi saat volume menipis menjelang expiry kontrak Brent Juni, mendorong volatilitas dan memperkuat efek “roll” ke kontrak Juli yang harganya lebih rendah. Kontrak Brent Juli ditutup relatif stabil di sekitar US$110,40, membuat penurunan front-month tampak lebih besar meski ketatnya pasokan fisik belum banyak berubah.
Di sisi positioning, data Kpler menunjukkan CTA/trend-followers sebelumnya sudah menggeser eksposur ke posisi “maksimum long” pada Brent dan WTI, yang dapat membatasi tambahan dorongan beli mekanis saat sentimen sudah terlalu “crowded”. Namun premi geopolitik tetap bertahan karena negosiasi belum memberi jalan keluar jelas, sementara Washington mempertimbangkan opsi lanjutan dan Teheran menegaskan tetap mempertahankan kontrol atas Hormuz.
Dari sisi fundamental, penutupan efektif Hormuz tetap menjadi kanal transmisi utama: gangguan pasokan memicu lonjakan harga energi, memperbesar risiko inflasi, dan menekan outlook pertumbuhan—terutama bagi ekonomi importir energi. Sinyal ketatnya pasar juga terlihat dari meningkatnya kebutuhan barel pengganti dari AS, termasuk lonjakan ekspor minyak AS ke rekor di atas 6 juta barel per hari dalam data terbaru.
Ke depan, pasar cenderung tetap headline-driven. Fokus utama: kepastian langkah lanjutan AS (militer dan blokade), respons Iran terkait Hormuz, dinamika roll ke kontrak berikutnya, serta indikator “demand destruction” di produk (diesel/jet) yang akan menguji seberapa lama harga tinggi bisa dipertahankan tanpa memukul konsumsi.(Arl)*
Sumber: Newsmaker.id