Emas Stabil, Dolar Melemah Usai Sinyal Intervensi Yen!
Harga emas bertahan menguat pada awal perdagangan Asia Jumat (01/5) setelah dolar AS melemah tajam di tengah laporan bahwa Jepang kemungkinan melakukan intervensi valas. Pelemahan dolar membantu menopang emas dan meredam tekanan dari meningkatnya risiko inflasi akibat perang Iran.
Bullion bergerak naik tipis ke kisaran US$4.619 per ons setelah menguat 1,5% pada sesi sebelumnya. Yen melonjak lebih dari 2% pada Kamis, kenaikan harian terbesar dalam tiga tahun, setelah Nikkei melaporkan pemerintah Jepang membeli yen dan menjual dolar, yang biasanya membuat emas berdenominasi dolar lebih menarik bagi pembeli non-dolar.
Sebelum reli pada akhir Kamis, emas sempat turun tiga hari beruntun seiring konflik Timur Tengah menjaga Selat Hormuz efektif tertutup bagi pelayaran dan belum ada kemajuan perundingan damai. Presiden AS Donald Trump menyatakan tetap mempertahankan blokade laut terhadap pelabuhan Iran, sementara pemimpin tertinggi Iran Mojtaba Khamenei menegaskan akan mempertahankan teknologi nuklir dan mengisyaratkan Teheran akan tetap menguasai selat tersebut.
Di sisi makro, guncangan pasokan energi dari konflik sembilan pekan ini menambah risiko inflasi dan memperkuat kemungkinan bank sentral menahan suku bunga lebih lama atau bahkan menaikkan, yang menjadi hambatan bagi emas karena tidak memberikan imbal hasil. Emas tercatat turun sekitar 12% sejak konflik dimulai pada akhir Februari.
Pada 07:43 waktu Singapura, spot gold naik 0,3% ke US$4.632,84 per ons, sementara indeks dolar Bloomberg nyaris stabil setelah turun 0,8% pada Kamis. Pelaku pasar akan memantau kelanjutan pergerakan yen dan dolar, dinamika harga energi, serta sinyal kebijakan suku bunga, di tengah pandangan yang terbelah: Citigroup menilai tekanan jual jangka dekat masih mungkin berlanjut, meski data World Gold Council menunjukkan pembelian emas bank sentral pada kuartal I meningkat paling cepat dalam lebih dari setahun.(asd)*
Sumber: Newsmaker.id