Minyak Pangkas Kenaikan Usai Trump Tunda Serangan ke Iran
Harga minyak memangkas kenaikan pada Senin (18/5) setelah Presiden AS Donald Trump mengatakan ia menunda serangan militer yang direncanakan terhadap Iran, menyusul permintaan sejumlah negara Timur Tengah dan klaim bahwa “negosiasi serius” kini berlangsung. Pernyataan tersebut meredakan sebagian premi risiko yang sempat terakumulasi di pasar energi.
Pada 15:45 ET, kontrak Brent Juli turun 0,2% ke US$109,09 per barel. WTI Juli naik 0,9% ke US$101,90 per barel, mencerminkan perdagangan yang tetap volatil di tengah tarik-menarik antara risiko eskalasi dan harapan diplomasi.
Sebelumnya, harga sempat menguat karena kebuntuan AS–Iran belum menunjukkan terobosan, insiden drone baru di Teluk menjaga ketegangan tinggi, dan Selat Hormuz masih nyaris tertutup bagi arus energi. Risiko gangguan pasokan fisik menjadi fokus pasar, terutama ketika pengiriman dari kawasan Teluk berperan besar dalam pasokan minyak global.
Trump menyatakan ia memerintahkan militer AS untuk tidak melanjutkan serangan yang semula dijadwalkan Selasa, setelah diminta Qatar, Arab Saudi, dan Uni Emirat Arab. Namun ia menegaskan militer tetap harus siap melakukan serangan skala besar “dalam sekejap” jika kesepakatan yang dapat diterima tidak tercapai, serta menekankan kesepakatan harus memastikan Iran tidak memiliki senjata nuklir.
Kedua pihak masih berbeda posisi dalam isu kunci. Washington menuntut Iran menghentikan ambisi nuklir, menyerahkan uranium yang diperkaya, dan membuka kembali Hormuz. Iran menuntut penghentian pertempuran di semua front, kompensasi kerusakan perang, dan penghentian blokade angkatan laut AS terhadap pelabuhan serta garis pantainya, sekaligus menolak tuntutan untuk mengakhiri aktivitas nuklir yang menjadi titik sengketa utama.
Bagi pasar, dinamika ini penting karena risiko pasokan energi langsung memengaruhi prospek inflasi dan ekspektasi suku bunga. Minyak yang bertahan tinggi dapat memperkuat tekanan harga dan mendorong pasar kembali menaikkan taruhan kebijakan yang lebih ketat. Fokus berikutnya tertuju pada sinyal konkret dari jalur negosiasi, status operasional Hormuz, serta perkembangan insiden keamanan di Teluk yang dapat memicu perubahan cepat pada premi risiko minyak.(yds)
Sumber: Newsmaker.id