Di Tengah Pasar Sepi, Emas Melemah Tajam, Ada Apa?
Harga emas melemah sekitar 1,5% pada sesi Asia hari ini, meskipun aktivitas pasar regional cenderung terbatas karena libur Tahun Baru Imlek. Koreksi terjadi di tengah likuiditas yang menipis, kondisi yang biasanya membuat pergerakan harga lebih mudah didorong oleh penyesuaian posisi jangka pendek.
Tekanan utama datang dari aksi ambil untung (profit Taking) setelah reli kuat pada sesi sebelumnya, ketika data inflasi Amerika Serikat yang lebih lembut sempat mengangkat ekspektasi pelonggaran kebijakan moneter. Dalam situasi pasar yang sepi, gelombang jual yang relatif kecil dapat terlihat lebih “besar” pada pergerakan harga.
Dari sisi fundamental, rilis CPI AS terbaru menunjukkan inflasi 2,4% (yoy) dengan kenaikan bulanan 0,2%, yang memperkuat keyakinan bahwa Federal Reserve memiliki ruang untuk memangkas suku bunga di paruh tahun berikutnya ini. Secara teori, prospek suku bunga yang lebih rendah mendukung emas karena menurunkan biaya peluang untuk memegang aset yang tidak menghasilkan.
Namun pasar masih menimbang ketahanan ekonomi AS dan sinyal bank sentral, sehingga respon harga emas tidak selalu linier. Investor kini mengalihkan fokus ke katalis berikutnya seperti risalah rapat (risalah) The Fed dan rilis inflasi core PCE, yang dinilai lebih menentukan arah ekspektasi suku bunga dibandingkan satu data tunggal.
Ketidakpastian geopolitik juga tetap menjadi penopang struktural bagi emas, namun pada saat yang sama dapat memicu volatilitas dua arah. Pelaku adalah kelanjutan pembicaraan nuklir AS–Iran serta upaya perdamaian Ukraina yang dijadwalkan kembali berjalan pada hari Selasa, di mana hasil pembicaraan berpotensi mempengaruhi selera risiko dan arus safe haven.
Dengan pasar Tiongkok daratan tutup sepanjang pekan dan likuiditas Asia menurun, emas berpotensi tetap bergerak fluktuatif dalam jangka pendek. Untuk sementara, koreksi tajam di sesi Asia lebih mencerminkan penyesuaian posisi di pasar tipis, sementara ke arah lanjutan emas akan sangat bergantung pada sinyal Fed dan perkembangan geopolitik dalam beberapa hari ke depan.(asd)
Sumber: Newsmaker.id