Kebuntuan di Hormuz Picu Kekhawatiran Perang Baru
Tiga bulan setelah Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan terhadap Iran, kebuntuan semakin dalam. Blokade AS terhadap pelabuhan Iran dan kontrol Teheran atas Selat Hormuz menciptakan situasi tanpa jalan keluar, sementara risiko konflik baru terus meningkat. Kekhawatiran utama para pembuat kebijakan kini bukan lagi soal kapan kesepakatan tercapai, melainkan berapa lama ketegangan ini dapat bertahan sebelum kesalahan perhitungan memicu perang kembali.
Upaya diplomasi yang dimediasi Pakistan belum menghasilkan terobosan. Washington menuntut Iran menghentikan pengayaan uranium dalam jangka panjang dan mengirimkan stok nuklirnya keluar negeri. Sebaliknya, Teheran meminta penghentian serangan, pencabutan blokade, kompensasi perang, serta pengakuan atas kedaulatannya di Selat Hormuz. Kedua pihak sama-sama meyakini waktu berada di pihak mereka, sehingga kompromi menjadi semakin sulit.
Presiden Donald Trump memperingatkan bahwa “waktu terus berjalan” bagi Iran dan mengancam konsekuensi berat jika tidak ada kesepakatan. Namun, pejabat Iran menegaskan bahwa program nuklir, kemampuan rudal, dan kendali atas Hormuz merupakan pilar strategis yang tidak bisa ditawar. Bagi Teheran, menyerahkan aset tersebut sama dengan menyerah.
Di tengah sikap keras tersebut, tekanan ekonomi terhadap Iran terus meningkat akibat inflasi tinggi dan gangguan industri. Meski demikian, para analis menilai solusi militer sulit menghasilkan kemenangan strategis yang menentukan. Dengan Selat Hormuz—jalur sekitar seperlima perdagangan minyak global—masih berada dalam tekanan, dampak ekonomi global kian terasa.
Sejumlah analis menilai negosiasi tetap menjadi satu-satunya jalan realistis. Tanpa kompromi mendasar dari kedua belah pihak, kebuntuan ini berisiko berubah menjadi konflik baru yang lebih luas dan berbiaya tinggi bagi stabilitas kawasan maupun ekonomi dunia. (mrv)
Sumber: Newsmaker.id