Emas Tertahan, Hormuz Buntu
Emas menahan pelemahan setelah sempat turun hingga 1,3%, di tengah kebuntuan pembukaan kembali Selat Hormuz yang terus menjaga kekhawatiran inflasi dan mengguncang pasar obligasi. Bullion kemudian memangkas hampir seluruh penurunan dan kembali diperdagangkan di sekitar US$4.535/ons, setelah turun hampir 4% pekan lalu.
AS dan Iran dilaporkan masih jauh dari kesepakatan untuk mengakhiri perang dan membuka Hormuz, jalur vital arus energi yang masih efektif tertutup. Ketidakpastian ini menjaga premi risiko energi tetap tinggi dan membuat pasar lebih sensitif terhadap headline geopolitik.
Harga minyak yang naik pada Senin, setelah Presiden Donald Trump kembali melontarkan ancaman terhadap Iran, ikut memperbesar kekhawatiran inflasi. Kenaikan inflasi berbasis energi meningkatkan peluang suku bunga bertahan tinggi atau bahkan naik, faktor yang umumnya menekan emas karena tidak memberikan imbal hasil.
Di pasar obligasi, aksi jual global mendorong yield naik tajam karena investor menilai lonjakan inflasi akibat perang bisa menekan bank sentral untuk mengetatkan kebijakan. ANZ menilai kenaikan yield membuat profil risk-reward emas memburuk sehingga sebagian investor mengurangi posisi, meski mereka melihat potensi dukungan jika bank sentral pada akhirnya beralih ke pelonggaran saat risiko pertumbuhan meningkat.
Pasar juga mencermati dinamika permintaan fisik, dengan pelemahan impor emas India akibat kebijakan impor yang lebih ketat yang disebut dapat diimbangi permintaan China. Fokus berikutnya tertuju pada risalah rapat The Fed minggu ini, sementara pada 13:06 waktu Singapura spot gold turun 0,1% ke US$4.536,26/ons, perak turun 0,8%, dan indeks dolar naik tipis setelah menguat pekan lalu.(asd)*
Sumber: Newsmaker.id