Inflasi Inggris Naik ke Level Tertinggi Empat Bulan, Harga Energi Jadi Pemicu
Inflasi Inggris kembali meningkat pada Juli 2026. Consumer Price Index (CPI) tahunan naik menjadi 2,9% dari 2,6% pada Juni, sekaligus mencapai level tertinggi dalam empat bulan. Angka tersebut sesuai dengan ekspektasi pasar dan menunjukkan tekanan harga mulai kembali menguat.
Kenaikan terbesar datang dari sektor perumahan dan layanan rumah tangga, dengan inflasi kelompok ini naik menjadi 4,1% dari 2,7% sebelumnya. Harga gas melonjak 14,7%, kenaikan terbesar sejak Oktober 2022, setelah Ofgem menaikkan batas harga energi sekitar 13% pada bulan lalu. Harga listrik juga naik 3,6%.
Tekanan harga turut terlihat pada sejumlah kelompok lain. Inflasi furnitur dan perlengkapan rumah tangga kembali positif menjadi 1,0%, sementara pakaian dan alas kaki naik 0,5%. Harga alkohol dan tembakau serta layanan kesehatan juga mencatat kenaikan lebih cepat dibanding bulan sebelumnya.
Namun, tidak semua komponen menunjukkan tekanan. Inflasi transportasi melambat menjadi 3,6% dari 5,7% akibat turunnya harga bahan bakar kendaraan, terutama diesel. Harga diesel rata-rata turun cukup tajam dari Juni ke Juli, sementara inflasi makanan juga melambat menjadi 1,3% dari 1,7%.
Secara bulanan, CPI Inggris naik 0,3%, sesuai perkiraan pasar dan lebih tinggi dibanding kenaikan 0,1% pada Juni. Data tersebut menunjukkan bahwa meski beberapa komponen mulai mendingin, lonjakan biaya energi masih menjadi risiko utama bagi prospek inflasi Inggris.
Analisis Newsmaker: Kenaikan inflasi ke 2,9% dapat membuat Bank of England tetap berhati-hati untuk melonggarkan kebijakan moneter. Jika tekanan energi terus meningkat, peluang suku bunga bertahan tinggi atau kembali dinaikkan dapat menguat dan memberikan dukungan bagi poundsterling. Namun, jika penurunan harga transportasi dan makanan berlanjut, tekanan inflasi dapat kembali mereda dalam beberapa bulan ke depan.(asd)*
Sumber: Newsmaker.id