
Trending

Dolar AS
Sumber: Newsmaker.id
Indeks Dolar Amerika Serikat atau DXY kembali mendekati level 99,00 pada perdagangan awal Eropa, Rabu. Penguatan ini terjadi setelah dolar AS mencoba memulihkan sebagian pelemahan sebelumnya, meskipun tekanan dari kebijakan Treasury masih membayangi pergerakan greenback.
Pelaku pasar masih mencermati langkah Departemen Keuangan AS dalam menstabilkan imbal hasil obligasi tenor panjang. Pekan lalu, Menteri Keuangan AS Scott Bessent mengatakan Departemen Keuangan akan menggandakan operasi pembelian kembali obligasi menjadi setidaknya US$4 miliar per operasi, dari batas sebelumnya US$2 miliar.
Langkah tersebut dilakukan untuk mengurangi biaya pinjaman jangka panjang. Namun, kebijakan ini juga menimbulkan kekhawatiran baru karena utang AS nasional telah melampaui US$40 triliun, sehingga pasar pandangan kesinambungan fiskal Amerika Serikat.
Laporan CNBC menyebut Departemen Keuangan AS dapat menggunakan sebagian saldo kasnya untuk membeli kembali obligasi tenor panjang. Meski langkah ini dapat membantu menahan imbal hasil, sebagian pelaku pasar menilai kombinasi faktor fiskal, imbal hasil, dan ekspektasi The Fed masih dapat menekan dolar AS hingga akhir tahun.
Dari sisi geopolitik, dolar AS mendapat dukungan setelah pemerintahan Presiden Donald Trump memperluas sanksi sekunder terhadap entitas dan negara yang tetap memiliki hubungan bisnis dengan Iran. Eskalasi sanksi Timur Tengah berpotensi meningkatkan permintaan safe haven terhadap dolar AS.
Namun, ekspektasi kenaikan suku bunga Federal Reserve mulai menurun. Pasar kini memperkirakan peluang kenaikan suku bunga 25 basis poin pada bulan September hanya sekitar 38,4%, turun tajam dari 67% pada awal bulan, berdasarkan CME FedWatch Tool.
Fokus utama pasar hari ini terjadi pada rilis indeks harga **Personal Consumption Expenditures** atau PCE AS bulan Juli. Data ini menjadi indikator inflasi penting bagi The Fed dan dapat memengaruhi ekspektasi pasar terhadap suku bunga dalam beberapa bulan ke depan.
Perhatian investor kemudian akan beralih ke pidato Ketua The Fed Kevin Warsh di Jackson Hole, Wyoming, pada hari Jumat. Pernyataan hawkish dari pejabat The Fed berpotensi mengangkat DXY dalam jangka pendek, sementara nada yang lebih hati-hati dapat kembali menekan dolar.
Strategis Scotiabank menilai stabilisasi dolar saat ini masih rapuh tanpa sinyal kebijakan yang lebih jelas dari pejabat AS. Investor menunggu kejelasan mengenai rencana konsolidasi fiskal dari Bessent dan arah reaksi kebijakan The Fed dari Warsh di Jackson Hole.
Analisis Newsmaker: DXY yang kembali mendekati 99,00 menunjukkan dolar AS masih memiliki dukungan jangka pendek, terutama dari sentimen safe haven akibat sanksi Iran. Namun, tekanan fundamental belum hilang karena buyback Treasury, kekhawatiran utang AS, dan menurunnya ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed masih membatasi penguatan greenback. Jika data PCE lebih panas dan Warsh memberi sinyal hawkish, DXY berpeluang menguji area 99,30–99,50. Sebaliknya, jika inflasi melandai dan pidato Jackson Hole tidak memberi arah yang tegas, dolar AS berisiko kembali melemah dari area 99. (asd)
Sumber: Newsmaker.id