
Trending

Minyak
Sumber: Newsmaker.id
Harga minyak ditutup turun tajam pada perdagangan Selasa (25/8) dan menyentuh level terendah dalam sepekan setelah pasar menilai kampanye sanksi terbaru Amerika Serikat terhadap Iran belum cukup kuat untuk langsung mengganggu pasokan. Brent merosot US$3,59 atau 3,9% ke US$88,58 per barel, sementara WTI turun US$2,65 atau 3,1% ke US$82,36 per barel.
Tekanan jual muncul setelah investor melihat perubahan pendekatan Washington dari konflik militer menuju tekanan ekonomi sebagai risiko yang lebih rendah terhadap pasokan energi. Menteri Keuangan AS Scott Bessent memang mengumumkan perluasan sanksi, tetapi belum mengungkap negara sasaran maupun waktu penerapannya dan masih memberikan kesempatan bagi mitra dagang Iran untuk menyesuaikan diri.
Pendekatan tersebut bahkan kembali memunculkan harapan bahwa AS dan Iran dapat kembali ke meja perundingan. Sentimen deeskalasi semakin menguat setelah Iran dan Oman membahas pembentukan koridor navigasi sementara di Selat Hormuz, termasuk rencana pembersihan ranjau untuk memulihkan lalu lintas kapal melalui jalur energi strategis tersebut.
Namun, risiko gangguan pasokan belum sepenuhnya hilang. Iran telah mengancam akan membalas sanksi AS, sementara China sebagai pembeli terbesar minyak Iran menegaskan hubungan dagangnya dengan Teheran dilakukan sesuai hukum internasional. Sebuah kapal tanker juga dilaporkan terkena proyektil di dekat Oman, menunjukkan ancaman keamanan maritim masih nyata.
Aktivitas pelayaran melalui Hormuz bahkan masih sangat terbatas. Hanya dua kapal tanker yang tercatat melintasi selat tersebut pada Senin, jumlah harian terendah sejak awal Mei. Sebelum konflik Iran dimulai, sekitar seperlima konsumsi minyak dunia melewati jalur tersebut, sehingga setiap eskalasi baru tetap berpotensi mengguncang harga minyak dengan cepat.
Analisis Newsmaker: penurunan lebih dari 3% menunjukkan pasar sedang memangkas premi risiko geopolitik setelah tekanan AS bergeser ke jalur ekonomi dan peluang diplomasi mulai terbuka. Namun, koreksi ini berpotensi terlalu agresif karena risiko Hormuz belum benar-benar selesai. Jika pembicaraan Iran-Oman berkembang positif, minyak masih berpeluang tertekan. Sebaliknya, serangan Iran terhadap instalasi AS atau gangguan baru terhadap pelayaran dapat memicu rebound harga yang tajam. (arl)
Sumber: Newsmaker.id