
Trending

Emas
Sumber: Newsmaker.id
Harga emas masih bertahan kuat setelah gagal menembus area psikologis US$4.700 pada hari Selasa (25/8). Harga emas spot berada di sekitar US$4.661,94 per troy ons, naik 0,23%, setelah bergerak dalam rentang US$4.605,53–US$4.696,98. Pergerakan ini menunjukkan buyer mulai kembali masuk setelah tekanan profit taking sempat membawa harga menjauh dari puncak lebih dari tiga bulan.
Dukungan terbesar emas saat ini kembali datang dari melemahnya dolar dan turunnya yield Treasury. DXY berada di sekitar 98,90, turun 0,09% dan masih dekat area terendah beberapa bulan terakhir. Sementara itu, yield Treasury AS tenor 10 tahun turun tajam ke sekitar 4,625% dari 4,704%, membuat opportunity cost memegang emas kembali berkurang.
Penurunan yield berkaitan dengan langkah Departemen Keuangan AS memperbesar program buyback obligasi jangka panjang. Kebijakan tersebut memang bertujuan memperbaiki likuiditas pasar Treasury dan mengurangi tekanan pada tenor panjang, tetapi justru kembali mengangkat kekhawatiran mengenai kondisi fiskal AS dan potensi pelemahan dolar. Narasi debasement trade masih menjadi salah satu fondasi utama reli emas dalam beberapa hari terakhir.
Namun, kenaikan gold masih tertahan oleh resistance US$4.700. Harga sebelumnya mencapai sekitar US$4.696 sebelum kehilangan momentum. Pasar juga mulai berhati-hati menjelang Core PCE Juli, yang diperkirakan tetap berada di 3,3% secara tahunan, jauh di atas target inflasi Fed sebesar 2%. Ekspektasi kenaikan suku bunga September juga belum sepenuhnya hilang, terlebih Presiden Fed Boston Susan Collins memperingatkan bahwa pengetatan tambahan mungkin diperlukan apabila inflasi tidak menunjukkan kemajuan.
Dari sisi lain, fundamental emas masih mendapat dukungan dari permintaan investasi. Impor bersih emas China melalui Hong Kong pada Juli meningkat sekitar 11% secara bulanan. Namun, premi safe haven geopolitik mulai menghadapi tekanan setelah muncul kemajuan diplomasi terkait Iran dan pembukaan kembali Selat Hormuz. Penurunan tajam harga minyak juga membantu menekan kekhawatiran inflasi energi; kontrak Brent November saat pengecekan berada sekitar US$85,99 per barel.
Analisis Newsmaker: secara fundamental, gold saat ini masih memiliki bias bullish tetapi berada dalam fase konsolidasi. Kombinasi DXY di bawah 99 dan yield 10 tahun yang turun ke sekitar 4,62% menjadi penopang utama. Area US$4.700 tetap menjadi resistance krusial; breakout yang valid dapat membuka ruang menuju US$4.720–US$4.750. Sebaliknya, jika PCE lebih panas dari ekspektasi 3,3% dan pasar kembali meningkatkan peluang rate hike, gold berisiko turun menguji US$4.620–US$4.600. Untuk hari ini, PCE menjadi katalis paling penting sebelum perhatian bergeser ke pidato Kevin Warsh di Jackson Hole pada Jumat. (arl)
Sumber : Newsmaker.id