
Trending

Dolar AS
Sumber: Newsmaker.id
Indeks dolar AS (DXY) kembali menembus level 99,00 untuk pertama kalinya sejak kejatuhan tajam Rabu lalu. Penguatan greenback pada perdagangan Senin (24/8) didorong oleh permintaan aset safe haven setelah Menteri Keuangan AS Scott Bessent meningkatkan tekanan terhadap Iran dengan menjanjikan penegakan sanksi “zero leakage” dan memperingatkan bahwa sebuah institusi keuangan besar akan dikenai sanksi dalam beberapa hari mendatang.
Sentimen risk-off juga mendorong kenaikan emas, sementara mata uang yang sensitif terhadap pertumbuhan mengalami tekanan. EUR/USD turun ke bawah 1,1700 dan bergerak menuju pertengahan 1,1600-an, sedangkan GBP/USD bertahan lemah di sekitar 1,3630. USD/JPY bergerak di atas 159,00, menunjukkan yen masih kesulitan menghadapi pemulihan dolar.
Tekanan paling besar terlihat pada dolar Australia. AUD/USD turun menuju 0,7150 akibat kombinasi penguatan dolar AS dan meningkatnya penghindaran risiko. Pasar selanjutnya akan mencermati notulen Reserve Bank of Australia serta data inflasi Australia, dengan CPI bulanan diperkirakan melambat menjadi 3,2% dari 3,8%. Data yang lebih rendah dari perkiraan dapat menambah tekanan terhadap AUD.
Dari Eropa, perhatian tertuju pada survei bisnis IFO Jerman, dengan indeks Business Climate Agustus diperkirakan membaik menjadi 87,2 dari 86,6. Sementara dari AS, investor menghadapi rangkaian data mulai dari indikator ketenagakerjaan ADP, harga rumah, Consumer Confidence, New Home Sales hingga Richmond Fed Manufacturing Index. Lelang Treasury tenor dua tahun juga akan menjadi perhatian karena pasar masih sensitif terhadap pergerakan yield.
Analisis Newsmaker: penguatan dolar saat ini lebih banyak mendapatkan tenaga dari arus safe haven akibat eskalasi tekanan AS terhadap Iran. Namun, menariknya emas juga menguat tajam, menunjukkan investor secara bersamaan mencari perlindungan dari risiko geopolitik dan fiskal. Jika sanksi Bessent memicu respons keras Iran, permintaan terhadap dolar dan emas dapat tetap tinggi. Sebaliknya, arah DXY berikutnya akan sangat ditentukan oleh data ekonomi AS dan pergerakan yield Treasury, terutama apakah indeks mampu bertahan di atas level psikologis 99,00. (arl)
Sumber : Newsmaker.id