
Trending

Emas
Sumber: Newsmaker.id
Harga emas melonjak lebih dari 2% pada perdagangan Kamis (17/9), bangkit setelah menyentuh level terendah hampir enam pekan pada sesi sebelumnya. Emas spot menguat 2,3% menjadi US$4.360,36 per troy ounce pada pukul 13.45 waktu New York atau Jumat (18/9) pukul 00.45 WIB. Sementara itu, emas berjangka AS kontrak Desember ditutup naik 0,3% menjadi US$4.399,70 per troy ounce.
Penguatan emas ditopang pelemahan dolar AS dari puncak tujuh pekan serta penurunan imbal hasil Treasury tenor 10 tahun. Harga minyak juga turun untuk hari kedua hingga menyentuh level terendah sepekan seiring meredanya kekhawatiran gangguan pasokan. David Meger, Direktur Perdagangan Logam High Ridge Futures, menilai penurunan harga energi membantu mengurangi tekanan inflasi yang sebelumnya membebani emas melalui ekspektasi pengetatan moneter.
Meski demikian, prospek suku bunga AS masih menjadi tantangan bagi logam mulia. Federal Reserve menaikkan bunga pada Rabu dan mengisyaratkan kemungkinan pengetatan lanjutan untuk mengendalikan inflasi. Berdasarkan CME FedWatch, peluang kenaikan bunga pada pertemuan Oktober mencapai 51%, meningkat dari hampir 44% sehari sebelumnya. Suku bunga tinggi dapat membatasi daya tarik emas karena meningkatkan keuntungan relatif dari aset berbunga.
Untuk jangka lebih panjang, UBS menilai membesarnya defisit fiskal, meningkatnya beban utang, dan potensi pelemahan dolar dapat menopang emas. Bank tersebut juga memperkirakan The Fed kembali melonggarkan kebijakan tahun depan, meskipun proyeksi itu masih menghadapi ketidakpastian. Perhatian pasar turut tertuju pada Bank of Japan yang diperkirakan menaikkan bunga pada Jumat, setelah Bank of England mempertahankan suku bunganya pada Kamis.
Penguatan turut meluas ke logam mulia lainnya. Perak spot melonjak 4,2% menjadi US$65,60 per troy ounce, mencatat kenaikan persentase terbesar di antara logam yang dilaporkan. Platinum menguat 1,8% ke US$1.783,69, sementara paladium naik 1,6% menjadi US$1.289,45 per troy ounce.
Menurut analisis Newsmaker, rebound emas menunjukkan bahwa pelemahan dolar dan penurunan yield untuk sementara mampu mengimbangi tekanan dari kenaikan bunga The Fed. Turunnya minyak turut membantu karena meredakan kekhawatiran inflasi energi, tetapi kenaikan probabilitas pengetatan Oktober menunjukkan risiko belum hilang. Penguatan emas berpeluang berlanjut apabila dolar dan yield terus melemah. Sebaliknya, lonjakan minyak yang kembali memperkuat ekspektasi kenaikan bunga dapat membatasi reli dan memicu koreksi.
Sumber: Newsmaker.id