
Trending

Emas
Sumber: Newsmaker.id
Harga emas kembali menguat pada perdagangan Kamis (17/9), setelah mengalami tekanan selama tiga sesi berturut-turut usai keputusan Federal Reserve menaikkan suku bunga. Emas spot sempat naik hingga 1,7% mendekati level US$4.335 per troy ounce sebelum bergerak di sekitar US$4.309,11 per troy ounce. Pergerakan positif tersebut terjadi seiring penurunan yield Treasury dan stabilnya pasar setelah keputusan The Fed.
Kenaikan emas terjadi setelah yield obligasi AS yang sebelumnya melonjak mulai mengalami koreksi. Penurunan imbal hasil Treasury memberikan ruang bagi emas untuk kembali menguat karena logam mulia tidak memberikan bunga sehingga biasanya kurang menarik ketika yield meningkat. Pelemahan tekanan dari pasar obligasi membantu investor kembali melihat emas sebagai aset lindung nilai.
Keputusan The Fed untuk menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin sebenarnya telah banyak diperkirakan pasar. Namun, perhatian investor tertuju pada sinyal kebijakan berikutnya setelah bank sentral AS menyatakan inflasi masih menjadi tantangan utama. Proyeksi terbaru menunjukkan tingkat suku bunga pada akhir 2026 diperkirakan berada di sekitar 4,1%, lebih tinggi dibandingkan proyeksi sebelumnya yang berada di 3,8%.
Tekanan inflasi yang berasal dari kenaikan harga energi serta ketidakpastian akibat konflik di Timur Tengah menjadi faktor yang membuat The Fed tetap berhati-hati. Ketua The Fed Kevin Warsh menegaskan bahwa sejumlah kategori barang dan jasa masih mencatat kenaikan harga tahunan di atas 3%, sehingga peluang kenaikan suku bunga tambahan masih tetap terbuka.
Di sisi lain, dolar AS mulai melemah setelah sebelumnya menguat pasca keputusan The Fed. Indeks dolar turun sekitar 0,1% setelah mencatat kenaikan 0,5% pada sesi sebelumnya. Selain emas, logam mulia lain juga ikut menguat, dengan perak naik 1,5% ke sekitar US$63,94 per ounce, sementara platinum dan palladium turut bergerak positif.
Analisis Newsmaker: Penguatan emas setelah keputusan The Fed menunjukkan bahwa pasar mulai melakukan penyesuaian setelah sebelumnya terlalu fokus terhadap dampak kenaikan suku bunga. Dalam jangka pendek, emas masih menghadapi tantangan dari kemungkinan kenaikan suku bunga lanjutan, dolar yang tetap kuat, serta tingginya yield Treasury. Namun, kombinasi pelemahan dolar, koreksi yield, dan meningkatnya ketidakpastian geopolitik dapat menjadi faktor pendukung bagi emas untuk mempertahankan momentum penguatan.(arl)
Sumber : Newsmaker.id