
Trending

Dolar AS
Sumber: Newsmaker.id
Indeks dolar AS (DXY) melanjutkan penguatan pada perdagangan Jumat (18/9), mencapai level 100,40, tertinggi dalam sekitar satu setengah bulan terakhir. Penguatan dolar didorong oleh respons pasar terhadap keputusan Federal Reserve yang tetap mempertahankan nada hawkish, serta pelemahan yen Jepang setelah keputusan Bank of Japan (BoJ) menaikkan suku bunga namun memberikan sinyal yang lebih hati-hati.
The Fed menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin ke kisaran 3,75%–4,00%, sesuai dengan ekspektasi pasar. Namun, perhatian investor tertuju pada sinyal kebijakan ke depan, di mana bank sentral AS masih membuka peluang setidaknya satu kali kenaikan suku bunga tambahan sebelum akhir tahun.
Ketua The Fed Kevin Warsh juga menegaskan komitmen bank sentral untuk mengendalikan inflasi yang masih tinggi. Pernyataan tersebut membantu meningkatkan kembali kepercayaan pasar terhadap arah kebijakan The Fed dan memperkuat daya tarik dolar AS di tengah ekspektasi suku bunga yang lebih tinggi dalam periode yang lebih lama.
Di sisi lain, yen Jepang menjadi salah satu faktor utama penguatan dolar. Bank of Japan menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin ke level tertinggi dalam 31 tahun, tetapi keputusan tersebut tidak sepenuhnya memberikan dukungan terhadap yen. Dua anggota kebijakan BoJ memilih menentang kenaikan bunga, sehingga pasar menilai langkah pengetatan berikutnya kemungkinan tidak akan berlangsung secepat perkiraan sebelumnya.
Perbedaan arah kebijakan antara The Fed dan BoJ membuat selisih imbal hasil aset AS dan Jepang tetap menjadi perhatian utama pasar valuta asing. Dolar mendapatkan keuntungan dari ekspektasi suku bunga tinggi, sementara yen menghadapi tekanan akibat ketidakpastian mengenai kecepatan normalisasi kebijakan moneter Jepang.
Analisis Newsmaker: Kenaikan DXY ke area 100,40 menunjukkan bahwa pasar kembali memberikan premi terhadap dolar setelah melihat sikap The Fed yang lebih tegas terhadap inflasi. Namun, pergerakan dolar ke depan masih akan bergantung pada data ekonomi AS berikutnya, terutama inflasi dan tenaga kerja. Jika data mendukung peluang kenaikan bunga tambahan, dolar berpotensi tetap kuat, tetapi perubahan ekspektasi The Fed dapat memicu koreksi. (arl)
Sumber : Newsmaker.id