
Trending

Global & Ekonomi
Sumber: Newsmaker.id
Konflik di Yaman kembali meningkat setelah kelompok Houthi menyebut pesawat tempur Arab Saudi melancarkan serangan udara besar-besaran terhadap sejumlah wilayah. Eskalasi terjadi setelah Houthi memperluas penguasaan di sepanjang pesisir Laut Merah dan sejumlah pulau strategis di kawasan Bab el-Mandeb.
Juru bicara militer Houthi Yahya Saree mengklaim kelompoknya menembak jatuh pesawat tempur F-15 Saudi dan menyebut hingga 450 serangan udara telah dilakukan sepanjang pekan ini. Klaim tersebut belum disertai bukti independen, sementara Arab Saudi belum memberikan konfirmasi langsung.
Ketegangan juga meluas ke wilayah Saudi setelah Houthi berulang kali meluncurkan serangan ke bagian selatan dan barat kerajaan. Riyadh mengatakan pertahanan udaranya menjatuhkan drone di selatan Mekkah, sementara Houthi membantah menargetkan kota suci tersebut.
Eskalasi Yaman menambah kekhawatiran terhadap pasokan energi global. Pipa East-West Saudi masih terganggu setelah serangan pekan lalu, sementara aktivitas pengiriman melalui Selat Hormuz juga belum kembali normal. Brent bertahan di sekitar US$108 per barel, sedangkan harga diesel ritel AS kembali mencetak rekor di atas US$6,30 per galon.
Analisis Newsmaker: Konflik Saudi-Houthi kini menjadi risiko tambahan bagi pasar minyak selain ketegangan di Hormuz. Jika pipa East-West tetap tertutup dan Bab el-Mandeb semakin tidak aman, gangguan pasokan bisa semakin besar dan mempertahankan premi risiko pada Brent. Sebaliknya, pemulihan pipa Saudi atau kemajuan diplomasi dapat meredakan tekanan harga energi. (arl)
Sumber: Newsmaker.id