
Trending

Global & Ekonomi
Sumber: Newsmaker.id
Tekanan jual di pasar obligasi dan saham global mulai mereda pada perdagangan Jumat (11/9) setelah harga minyak turun dari level tertinggi empat bulan. Meski begitu, lonjakan harga energi dalam beberapa hari terakhir masih menjaga kekhawatiran inflasi tetap tinggi dan membuat pasar memperhitungkan kemungkinan bank sentral akan mempertahankan kebijakan moneter ketat lebih lama.
Pergerakan minyak masih menjadi salah satu faktor utama. Arus energi melalui Selat Hormuz tetap terbatas di tengah saling serang antara Amerika Serikat dan Iran. Namun, harga minyak mulai terkoreksi setelah muncul laporan bahwa sejumlah menteri luar negeri di Timur Tengah tengah membahas kesepakatan sementara dengan Iran untuk menjaga kelancaran pelayaran melalui jalur strategis tersebut.
Di pasar obligasi AS, yield Treasury 10 tahun sempat menyentuh 4,979%, level tertinggi hampir tiga tahun, sebelum turun ke sekitar 4,94%. Yield 30 tahun juga sempat mencapai 5,3836%, tertinggi dalam 19 tahun, sementara yield 2 tahun naik ke 4,5961%. Kenaikan tersebut terjadi seiring pasar meningkatkan peluang kenaikan suku bunga The Fed bulan ini menjadi sekitar 67%.
Tekanan di pasar obligasi juga diperburuk oleh program buyback Treasury AS yang nilainya berada di bawah ekspektasi US$6 miliar. Kondisi tersebut membuat investor tetap berhati-hati terhadap tekanan likuiditas dan arah yield, terutama ketika risiko inflasi dari harga energi masih tinggi.
Fokus pasar kini tertuju pada rilis CPI AS Agustus. Core CPI diperkirakan naik 0,2% secara bulanan, namun risiko hasil yang lebih tinggi masih terbuka setelah data PPI menunjukkan tekanan harga yang cukup persisten. Hasil CPI akan menjadi salah satu penentu utama apakah The Fed memiliki cukup alasan untuk menaikkan suku bunga pada pertemuan pekan depan.
Analisa Newsmaker: Kondisi pasar saat ini menunjukkan bahwa CPI menjadi titik penentu utama arah dolar, yield Treasury, dan emas. Jika CPI kembali lebih panas dari perkiraan, peluang kenaikan suku bunga The Fed berpotensi meningkat, mendorong yield dan dolar AS lebih tinggi serta kembali menekan harga emas. Sebaliknya, jika inflasi melandai, tekanan pada yield dapat mereda, ekspektasi kenaikan suku bunga turun, dan emas berpeluang mendapatkan momentum pemulihan. Namun selama harga minyak tetap tinggi dan konflik di Timur Tengah belum mereda, risiko inflasi tetap menjadi faktor yang membatasi ruang kenaikan emas. (arl)
Sumber: Newsmaker.id